MASA depan dua pelajar SMK di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) berubah drastis hanya dalam hitungan bulan. Dari yang awalnya sekadar mencoba narkoba karena lingkungan pergaulan, keduanya kini harus berhadapan dengan proses hukum setelah tertangkap membawa sabu.
Yang membuat kasus ini terasa menyesakkan, mereka bukan semata pelaku. Polisi menyebut dua remaja itu juga korban dari lingkaran pertemanan yang perlahan menyeret mereka masuk ke jaringan narkotika.
Kapolres Bontang, Widho Anriono, mengungkapkan keduanya pertama kali terlibat sebagai pengguna. Pergaulan yang dipenuhi sesama pemakai membuat mereka makin dekat dengan jaringan pengedar.
“Awalnya mereka pemakai. Karena lingkungan pertemanannya juga pengguna, kemudian ditawari menjadi kurir,” ujar Widho didampingi Kasat Reskoba Iptu Larto, Selasa (26/5/2026).
Dari situlah semuanya berubah.
Keduanya kemudian dikenalkan kepada seorang pria bernama Emon yang diduga menjadi bagian penting dalam jaringan peredaran sabu di Bontang. Modus yang digunakan disebut cukup rapi. Para kurir hanya diminta mengantar barang ke titik tertentu melalui sistem “jejak”.
Mereka tidak mengetahui keseluruhan jaringan. Setelah paket diantar, tugas selesai. Komunikasi dilakukan seperlunya.
Pada awal perekrutan, dua pelajar itu hanya diberi tugas membawa paket kecil. Polisi menduga langkah itu menjadi semacam tes loyalitas sekaligus memastikan keduanya siap menjalankan perintah berikutnya.
“Dua kali mereka mengantar paket kecil. Setelah itu baru dipercaya membawa paket lebih besar dengan imbalan lebih tinggi,” jelas Kapolres.
Dua remaja tersebut dijanjikan bayaran Rp15 juta apabila seluruh pengantaran berhasil dilakukan. Namun sebelum tugas selesai, mereka baru menerima uang muka Rp1 juta.
Nominal besar itu diduga membuat keduanya nekat terus menjalankan instruksi, meski sadar barang yang dibawa merupakan narkotika.
“Mereka tidak menjual, hanya mengantar sesuai instruksi. Tapi tetap saja, peran ini sangat berbahaya dan melanggar hukum,” tegas Widho.
Fakta lain yang membuat polisi prihatin, sabu itu sempat disimpan di rumah salah satu pelaku. Barang haram tersebut diletakkan di kamar pribadi tanpa diketahui orang tua.
Situasi ini menjadi peringatan keras bagi keluarga yang memiliki anak remaja. Banyak orang tua merasa anaknya aman berada di rumah, padahal ancaman bisa masuk diam-diam lewat pergaulan dan komunikasi tertutup.
Kasus ini terbongkar setelah Satuan Reserse Narkoba Polres Bontang menerima laporan warga terkait aktivitas mencurigakan di salah satu kawasan kota. Dari tangan kedua pelajar itu, polisi menyita ratusan gram sabu yang diduga siap diedarkan.
Sayangnya, upaya polisi memburu bandar utama belum berjalan mulus. Setelah dua kurir tersebut tertangkap, komunikasi dengan Emon langsung terputus.
“Setelah keduanya tertangkap, komunikasi dengan Emon putus, sehingga kami masih kesulitan melakukan pengembangan,” ungkap Widho.
Kasus ini kembali memperlihatkan bagaimana jaringan narkoba kerap membidik anak muda. Mereka memanfaatkan rasa ingin tahu, tekanan ekonomi, hingga kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan.
Sekali masuk, jalan keluarnya tidak mudah.
Karena itu, polisi meminta orangtua, sekolah, dan lingkungan sekitar lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja. Komunikasi di rumah dinilai menjadi benteng paling awal agar anak tidak mencari pelarian di luar.
“Pengawasan dan komunikasi dalam keluarga sangat penting. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban berikutnya,” tutup Kapolres. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















