AMBISI Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki klub sepak bola profesional harus ditahan. Di tengah tekanan fiskal akibat turunnya dana transfer dari pemerintah pusat, rencana pembelian klub resmi ditunda.
Keputusan itu diambil bukan tanpa pertimbangan. Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menyebut kondisi keuangan daerah saat ini tidak cukup longgar untuk menanggung beban besar sebuah klub profesional.
Dana transfer dari pusat yang turun lebih dari 50 persen membuat ruang gerak anggaran semakin sempit. Pemerintah daerah harus memilah ulang prioritas, menahan program yang berisiko membebani keuangan jangka panjang.
“Jangan sampai kita mampu membeli klub, tapi tidak sanggup membiayai operasionalnya. Itu justru akan menjadi sia-sia,” kata Agus, kepada Pranala.co, Rabu (22/4/2026).
Ia menekankan, membeli klub hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya justru datang setelahnya—membayar gaji pemain, menggelar pertandingan, hingga menjaga pembinaan agar tetap berjalan. Tanpa kemampuan finansial yang stabil, klub bisa berhenti di tengah jalan.
Di tengah keterbatasan itu, arah kebijakan pun digeser. Bontang memilih kembali ke akar: membangun dari bawah. Rencana menggelar Wali Kota Cup antar kelurahan pada November hingga Desember 2026 disiapkan sebagai ruang bagi pemain-pemain muda menunjukkan kemampuan.
Di lapangan, denyut sepak bola lokal sebenarnya belum padam. Sejumlah turnamen mini soccer sebelumnya tetap berjalan, bahkan tanpa bergantung pada APBD. Komunitas dan dukungan lokal menjadi penopang, menandakan minat masyarakat masih kuat.
Bagi Agus Haris, situasi ini bukan langkah mundur. Justru menjadi jeda untuk menata ulang fondasi—agar ketika waktunya tiba, Bontang tidak hanya punya klub, tetapi juga ekosistem yang siap menopangnya. [FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















