Pranala.co, BONTANG – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang kembali menangani kasus kecanduan minuman keras oplosan. Kali ini, seorang pemuda berinisial FD, warga Kelurahan Tanjung Laut Indah, terjerat kebiasaan minum “ngoteng” yang meresahkan keluarga dan lingkungannya.
Kisah FD cukup memilukan. Demi memenuhi hasrat mengonsumsi minuman berbahaya itu, ia rela menjual barang-barang milik keluarganya. Tidak hanya itu, FD juga pernah membuat order fiktif di aplikasi ojek online hingga merugikan para pengemudi ratusan ribu rupiah.
“Orangtua FD sudah kami hubungi. Besok mereka akan datang ke kantor BNN. Harapannya, FD bisa segera masuk rehabilitasi sampai benar-benar pulih,” kata Kepala BNN Bontang, Lulyana Ramdani, Rabu (27/8/2025).
Menurut Lulyana, persoalan FD tidak bisa dilihat hanya dari sisi hukum. Akar masalahnya ada pada kecanduan minuman oplosan.
“Kalau ada proses hukum, biarkan tetap berjalan. Tapi kecanduannya harus dibereskan dulu. Kalau tidak, kemungkinan dia mengulangi perbuatan akan sangat besar,” tegasnya.
FD sendiri sebenarnya pernah menjalani rehabilitasi di Tanah Merah selama beberapa bulan. Namun, program pascarehab yang seharusnya dilanjutkan di BNN Bontang tidak ia jalani. Kepada orang tua, FD mengaku programnya sudah selesai. Padahal, faktanya belum tuntas.
“Inilah masalahnya, dia berbohong kepada keluarganya,” tambah Lulyana.
Saat ini, BNN masih menunggu hasil asesmen untuk menentukan langkah lanjutan. Dari asesmen itu, akan diputuskan apakah FD cukup menjalani rawat jalan atau harus dirawat inap.
“Bahaya ngoteng sejajar dengan narkoba. Sama-sama menyerang otak. Kalau otak diibaratkan perangkat lunak, begitu sudah ‘hang’, akan sulit pulih kembali,” jelasnya.
Kasus FD menjadi pengingat bahwa ngoteng bukan masalah sepele. Minuman keras oplosan bisa merusak tubuh, memengaruhi pikiran, dan mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal.
BNN mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada. Dukungan keluarga dan lingkungan, kata Lulyana, sama pentingnya dengan program rehabilitasi itu sendiri.
“Pencegahan lebih baik daripada penanganan. Jangan anggap remeh kebiasaan mengonsumsi minuman oplosan,” pungkasnya. (FR)















