Pranala.co, BONTANG — Wacana penundaan Pekan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur alias Porprov Kaltim 2026 ke tahun 2027 berpotensi menimbulkan dampak serius bagi atlet-atlet muda di Kota Bontang. Jika rencana ini terealisasi, beberapa atlet bisa kehilangan kesempatan berlaga karena terbentur batas usia yang berlaku dalam regulasi pertandingan.
Di banyak cabang olahraga, Porprov menerapkan kriteria usia tertentu agar kompetisi tetap fokus pada pembinaan atlet muda. Artinya, atlet yang pada tahun ini masih memenuhi syarat bisa saja tidak lagi memenuhi kriteria jika ajang diundur satu tahun.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporapar Ekraf) Bontang, Eko Mashudi, mengakui potensi tersebut cukup besar. Menurutnya, perubahan jadwal akan memaksa sejumlah cabang olahraga menyesuaikan program pembinaan dan persiapan atlet.
“Program persiapan yang sudah dirancang oleh sebagian cabor tentu harus menyesuaikan kembali. Salah satunya terkait usia atlet yang mungkin sudah melebihi batas jika pelaksanaan Porprov digelar tahun depan,” ujar Eko Mashudi, Selasa (10/3/2026).
Tak hanya soal usia, penundaan juga berpotensi memengaruhi performa atlet. Dalam dunia olahraga, puncak performa (peak performance) dirancang melalui program latihan jangka panjang agar atlet mencapai kondisi terbaik tepat saat kompetisi berlangsung.
“Potensi itu ada. Namun saat ini kami masih melakukan pendataan dan melihat kembali regulasi yang berlaku di masing-masing cabang olahraga,” lanjut Eko.
Meski demikian, Pemerintah Kota Bontang memastikan persiapan menuju Porprov tetap berjalan sesuai rencana. Program latihan atlet tetap dilaksanakan oleh masing-masing cabang olahraga sambil menunggu kepastian jadwal dari pemerintah provinsi.
Selain pembinaan atlet, Disporapar Ekraf juga menyiapkan dukungan anggaran, fasilitas latihan, serta sarana pendukung lainnya.
“Kami tetap menjalankan program latihan melalui cabor-cabor, menyiapkan anggaran serta fasilitas pendukung, termasuk sarana latihan, dengan berkoordinasi bersama instansi dan stakeholder terkait,” jelas Eko.
Bagi banyak atlet muda, Porprov menjadi panggung penting untuk menunjukkan kemampuan, mengukur hasil latihan, sekaligus membuka peluang menuju kompetisi yang lebih tinggi.
“Karena itu, kepastian jadwal sangat dinantikan para atlet, pelatih, dan pengurus cabang olahraga. Sehingga proses pembinaan tetap berjalan optimal dan kesempatan bertanding tidak terlewat begitu saja,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam rapat koordinasi Dispora se-Kalimantan Timur, muncul wacana penundaan Porprov VIII yang seharusnya berlangsung akhir 2026 di Kabupaten Paser. Salah satu persoalan utama adalah belum terakomodasinya anggaran Porprov VIII dalam APBD murni Provinsi Kaltim 2026, serta kesiapan anggaran kontingen yang belum merata di kabupaten/kota.
“Anggaran Porprov VIII belum terakomodir di APBD murni Provinsi Kaltim tahun 2026,” kata Kurniawan, Senin (2/3/2026). (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















