PEMANDANGAN tak biasa menghiasi tahun ajaran baru di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Jika biasanya orang tua berdesakan memperebutkan kursi sekolah negeri, tahun ini justru sebaliknya. Puluhan ruang kelas terancam sunyi tanpa riuh rendah suara tawa siswa.
Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mengungkap fakta mengejutkan. Tercatat, ada kekurangan sekira 436 siswa baru untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Dampaknya: deretan kursi kosong kini menghantui sejumlah sekolah.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya, terutama saat menyoroti wilayah Bontang Barat. Di sana, angka partisipasi siswa merosot ke titik yang cukup mengkhawatirkan.
“Untuk SD 01 Bontang Barat, laporan yang saya terima hanya tiga orang yang mendaftar. Sangat sedikit,” ujar Neni dengan nada serius, Selasa (2/6/2026).
Kondisi serupa terjadi di SD 02 Bontang Barat. Meski menyediakan dua kelas, hanya 28 orang yang mendaftar. Artinya, satu ruang kelas dipastikan bakal melompong sepanjang tahun ajaran ini.
Mengapa Sekolah Negeri Mulai Sepi?
Pemerintah Kota Bontang kini sedang bergerak cepat mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Neni menduga ada beberapa faktor yang berkelindan, mulai dari suksesnya program Keluarga Berencana (KB) yang menekan populasi anak usia sekolah, hingga gelombang migrasi penduduk ke luar daerah.
Namun, ada satu faktor yang tak bisa dikesampingkan: selera masyarakat yang mulai bergeser. Muncul dugaan kuat bahwa minat warga terhadap sekolah swasta yang menawarkan program khusus kian meningkat.
“Kami masih mendalami penyebab pastinya. Apakah ini murni faktor populasi, migrasi, atau memang pilihan sekolah yang berubah,” tambah Neni.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengakui bahwa penurunan ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah, meski Bontang Barat menjadi yang paling terdampak. Untuk mencari jawaban pasti, pihaknya akan menggandeng Disdukcapil guna mencocokkan data populasi anak usia sekolah.
“Besok kami minta data pasti jumlah anak usia sekolah. Kita ingin tahu apakah ini murni karena jumlah anaknya yang memang berkurang,” jelas Abdu Safa.
Menariknya, Abdu Safa melihat ada perubahan pola pikir di kalangan orang tua di Bontang. Label “Sekolah Negeri” tidak lagi menjadi magnet utama jika tidak dibarengi dengan kualitas yang kompetitif.
“Sekarang trennya bergeser. Bukan lagi bicara Negeri versus Swasta, tapi Negeri versus Kualitas. Ini tamparan sekaligus catatan penting bagi kami,” tegasnya.
Secara matematis, hilangnya 436 calon siswa ini setara dengan puluhan rombongan belajar (rombel) yang hilang. Jika satu kelas rata-rata diisi 28 siswa, maka ada sekira 15 hingga 16 ruang kelas di Bontang yang tidak akan digunakan tahun ini.
Pemerintah kini dipaksa untuk segera memetakan ulang strategi pendidikan di Bontang. Jika tidak, sekolah-sekolah negeri di pinggiran terancam kehilangan fungsinya sebagai pusat pendidikan utama bagi masyarakat. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















