SEBANYAK 162 kasus stunting tercatat di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Bontang. Angka ini menjadi perhatian serius Wali Kota Neni Moerniaeni saat melakukan kunjungan kerja, Senin (4/5/2026).
Di hadapan perangkat kelurahan dan tokoh masyarakat, Neni menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara umum, melainkan harus berbasis data individu.
Pendekatan “by name by address” diminta diterapkan agar setiap balita dan ibu hamil yang berisiko dapat terpantau secara spesifik.
“Target kita adalah zero stunting. Kita harus intervensi sejak masa kehamilan,” ujar Neni.
Intervensi yang disiapkan mencakup pemenuhan gizi, terutama asupan protein tinggi bagi ibu hamil dan balita. Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN) dan perusahaan swasta.
Kelurahan Tanjung Laut Indah sendiri telah menggandeng PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dalam mendukung program pemenuhan gizi masyarakat.
Secara nasional, stunting masih menjadi tantangan pembangunan manusia. Pemerintah pusat menargetkan penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga intervensi di tingkat daerah menjadi penentu capaian tersebut.
Pemkot Bontang menilai percepatan penanganan berbasis data menjadi strategi utama untuk menekan angka stunting secara berkelanjutan.
Bontang memang sedang berpacu dengan waktu. Bukan soal pembangunan gedung tinggi atau jalan raya, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: sanitasi. Pemerintah kota memasang target ambisius—menghapus praktik buang air besar sembarangan (BABS) sepenuhnya pada 2027.
Di balik target itu, tersimpan persoalan yang lebih besar dari sekadar kebersihan. Ini tentang kesehatan, tentang masa depan anak-anak, dan tentang bagaimana sebuah kota merawat warganya.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut capaian pengelolaan air limbah domestik saat ini sudah mencapai 96,86 persen. Angka yang tinggi, namun belum cukup untuk membuat pemerintah berpuas diri.
Selama ini, isu sanitasi kerap dipandang sebatas pembangunan fisik—membangun toilet umum atau menyediakan septic tank. Namun di Bontang, pendekatan itu mulai bergeser.
Pemerintah menyadari, persoalan utama justru terletak pada perilaku. Infrastruktur tanpa kesadaran hanya akan menjadi fasilitas yang tak terpakai.
Karena itu, selain pembangunan toilet umum dan septic tank terapung, pemerintah juga menggenjot edukasi kepada masyarakat. Pesannya sederhana, tetapi krusial: sanitasi layak adalah bagian dari gaya hidup sehat. [DIAS]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















