Pranala.co, BONTANG — Di tengah kecukupan materi, banyak keluarga modern justru menghadapi kekosongan yang lebih dalam: kurangnya kasih sayang. Sebuah survei terhadap 1.200 anak usia 10–18 tahun di Bontang memunculkan temuan yang mencemaskan. Sebagian remaja dilaporkan mengalami kecemasan, depresi, dan kebingungan identitas akibat minimnya perhatian keluarga.
Menanggapi kenyataan itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengumpulkan para kader lini lapangan dari seluruh kelurahan. Mereka disebut sebagai garda terdepan dalam pembangunan keluarga.
Pertemuan itu berlangsung dalam acara Peningkatan Kapasitas Kader Program Bangga Kencana di Hotel Tiara Surya, belum lama ini. Di hadapan para kader, narasumber dari Kejaksaan, dan jajaran DP3AKB, Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan pesan yang menembus inti persoalan.
“Inti pembangunan keluarga dimulai dari cinta dan kasih sayang di rumah tangga,” ucapnya. “Cinta yang tulus akan melahirkan keluarga yang kuat, berkarakter, dan menjadi dasar bagi bangsa yang tangguh.”
Neni menegaskan bahwa Pemkot tidak tinggal diam menghadapi temuan survei tersebut. Pemerintah kini menyiapkan kolaborasi dengan psikolog klinis dan pihak sekolah. Tujuannya memperkuat layanan konseling bagi para remaja yang membutuhkan pendampingan.
Ia meminta para kader untuk mengedepankan pendekatan yang lembut dan edukatif. Terutama ketika menghadapi anak-anak yang mengalami masalah psikologis atau kebingungan identitas. Tidak boleh ada stigma. Tidak boleh ada diskriminasi.
Wali kota juga mengaitkan pentingnya kesehatan mental dengan kondisi lingkungan tempat tinggal. Ia kembali menggaungkan Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (GESIT). Menurutnya, rumah yang bersih akan memancarkan energi positif bagi penghuninya.
Kepala Dinas DP3AKB, Eddy Foreswanto, menambahkan bahwa para kader adalah motor penggerak di lapangan. Mereka harus bekerja dengan hati gembira. Mereka pula yang menjadi jembatan antara keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat penyelesaian berbagai isu strategis. Mulai dari stunting, kekerasan terhadap anak, hingga kesehatan mental remaja. Semua bergerak menuju satu tujuan: mewujudkan generasi Bontang yang kuat, berdaya saing, dan berkarakter. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















