Pranala.co, BONTANG – Langit Bontang sedang indah-indahnya. Musim layangan datang lagi. Benang warna-warni saling mengejar. Anak-anak bersorak. Tertawa. Berlari. Tapi tak semua tawa berujung bahagia.
Di bawah langit yang cerah itu, jalanan justru jadi medan bahaya. Bukan karena tabrakan. Bukan karena rem blong. Tapi karena layangan putus.
Ya. Layangan yang putus itu seperti magnet. Ditangkap siapa cepat dia dapat. Dikejar anak-anak, sampai ke tengah jalan. Sampai nyelonong di depan motor.
Di Jalan Balikpapan, Gunung Telihan, pemandangan itu jadi rutin. Hampir setiap sore.
“Sering banget ada anak tiba-tiba nyebrang. Tanpa lihat kanan kiri. Saya sampai rem mendadak,” kata Dimas, seorang pengendara motor yang ditemui Pranala.co, Senin (28/7).
Remnya selamat. Anaknya selamat. Tapi nyaris. Satu detik saja terlambat, bisa lain cerita.
Bukan cuma di jalan. Bahaya juga ada di atas pohon. Di atas genteng. Di kabel listrik.
Anak-anak tak segan manjat demi seutas benang. Demi sehelai kertas. Mereka panjat pohon tanpa alas kaki. Tanpa tali pengaman.
“Pernah saya lihat ada anak naik ke pohon dekat kabel listrik. Mau ambil layangan. Saya teriak-teriak nyuruh turun,” kata Dimas lagi.
Tapi anak-anak itu tak takut. Mungkin karena belum tahu rasanya jatuh. Belum tahu bahayanya listrik. Belum tahu luka itu tak selalu bisa sembuh.
Masalah tak berhenti di langit dan pohon. Benang yang putus juga jadi ancaman di jalanan. Terbawa angin. Terjerat di roda. Melilit leher.
“Saya pernah kena benang layangan di leher. Pas naik motor. Kaget. Hampir jatuh,” kata Ningsih, warga Kelurahan Kanaan.
Untung tak luka. Tapi trauma. Sejak itu, ia lebih waspada. Lebih pelan kalau lewat jalan-jalan yang ramai anak main layangan.
Layangan adalah warisan budaya. Kesenangan murah meriah. Tapi tanpa pengawasan, bisa jadi bencana.
Anak-anak perlu bermain. Tapi mereka juga perlu diberi tahu mana yang bahaya. Perlu dituntun. Perlu diawasi.
Dimas dan Ningsih sepakat: bermain layangan sebaiknya di lapangan. Bukan di jalan. Bukan di atap. Bukan dekat kabel listrik.
“Main layangan boleh. Tapi jangan sampai makan korban,” kata mereka menutup percakapan.
Langit Bontang memang indah saat musim layangan. Tapi jangan sampai indahnya langit menutup mata kita dari bahaya di bawahnya. (FR)















