PETA ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan perubahan. Jika selama bertahun-tahun pertambangan menjadi motor utama pertumbuhan, kini roda ekonomi justru bergerak lebih kencang berkat perdagangan dan sektor konstruksi.
Data Bank Indonesia menunjukkan, pada kuartal I 2026, aktivitas belanja masyarakat dan pembangunan proyek menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Sebaliknya, sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung justru mencatat kontribusi negatif terhadap pertumbuhan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, mengatakan peningkatan aktivitas perdagangan tidak lepas dari tingginya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR), meningkatnya mobilitas masyarakat, hingga tingginya permintaan barang dan jasa ikut mendorong perputaran ekonomi di berbagai daerah di Kalimantan Timur.
“Meningkatnya lapangan usaha perdagangan sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat pada periode Ramadan dan HBKN Idulfitri, pembayaran THR, serta peningkatan mobilitas masyarakat yang mendorong permintaan barang dan jasa,” ujar Jajang dalam keterangan resminya.
Tak hanya konsumsi masyarakat, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama berbagai proyek swasta juga memberikan dorongan signifikan terhadap sektor konstruksi.
Aktivitas pembangunan tersebut menjaga permintaan tenaga kerja, material bangunan, hingga jasa pendukung tetap tinggi sepanjang awal tahun.
Di sisi lain, lapangan usaha pertambangan dan penggalian justru memberikan andil negatif sebesar -0,53 persen (year on year). Sektor jasa keuangan dan asuransi juga mengalami kontraksi dengan andil -0,05 persen.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa ekonomi Kalimantan Timur mulai bergerak menuju struktur yang lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada komoditas tambang.
Meski pertumbuhannya melemah, sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Timur dengan porsi 33,92 persen.
Di bawahnya terdapat industri pengolahan sebesar 20,06 persen, konstruksi 11,50 persen, pertanian 9,61 persen, serta perdagangan 7,74 persen.
Transportasi dan pergudangan berkontribusi 4,77 persen, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan minum menyumbang 1,31 persen. Sepuluh lapangan usaha lainnya secara gabungan mengambil porsi 11,09 persen.
Lima sektor terbesar tersebut masih menguasai sekitar 82,83 persen dari total perekonomian Kalimantan Timur.
Jika dilihat dari sisi pertumbuhan, perdagangan besar dan eceran tampil sebagai penyumbang terbesar dengan andil 0,98 persen (yoy).
Posisi berikutnya ditempati industri pengolahan sebesar 0,60 persen, transportasi dan pergudangan 0,34 persen, konstruksi 0,32 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 0,29 persen.
Sektor informasi dan komunikasi ikut memberikan kontribusi 0,28 persen, disusul administrasi pemerintahan 0,16 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 0,16 persen, jasa pendidikan 0,14 persen, serta berbagai sektor jasa lainnya 0,10 persen. (*)

















