SEBUAH ironi kesehatan lingkungan terjadi di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Bontang. Kawasan ini sejatinya telah menyandang status mentereng sebagai wilayah bebas buang air besar sembarangan alias Open Defecation Free (ODF).
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Masih ada 22 kepala keluarga di wilayah pesisir tersebut yang terpaksa melakukan buang air besar sembarangan di Bontang karena tidak memiliki fasilitas sanitasi layak.
Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, mengakui persoalan ini menjadi pekerjaan rumah berat yang mendesak untuk diselesaikan. Bagi Elis, urusan kakus bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan hak dasar hidup sehat warga yang harus terpenuhi.
“Ini kebutuhan dasar. Kami terus mengingatkan para ketua RT agar memastikan setiap rumah baru wajib memiliki jamban dan septic tank sendiri,” kata Elis saat ditemui baru-baru ini.
Data dari puskesmas setempat merinci sebaran rumah tanpa fasilitas sanitasi tersebut. Sebanyak 20 unit rumah berada di wilayah RT 16, sementara dua rumah lainnya terletak di RT 7.
Hampir seluruh bangunan ini berdiri kokoh di atas air laut. Kondisi geografis pesisir yang mengalami pasang surut ekstrem membuat penanganan sanitasi di sana tidak bisa disamakan dengan wilayah daratan.
Pemkot Bontang sebenarnya tidak tinggal diam dalam melihat fenomena ini. Tahun lalu, program pengadaan jamban sempat bergulir, namun hasilnya justru jauh dari harapan warga setempat.
Bantuan tersebut berujung sia-sia karena spesifikasi jamban yang dikirim tidak cocok untuk karakteristik wilayah pesisir. Akibatnya, fasilitas itu mangkrak dan tidak bisa digunakan secara optimal oleh masyarakat sekitar.
“Wilayah pesisir itu berbeda, tidak bisa pakai desain jamban biasa. Harus ada penyesuaian khusus karena faktor pergerakan tanah dan air laut,” jelas Elis menekankan pentingnya evaluasi program.
Pihak kelurahan kini tengah menyusun strategi baru untuk mengatasi celah dalam deklarasi ODF mereka. Elis menegaskan, pihaknya akan kembali mengusulkan pengadaan jamban pasang surut dengan spesifikasi yang lebih akurat pada tahun ini.
Edukasi personal kepada masyarakat pesisir juga terus berjalan secara paralel. Langkah ini penting guna memutus rantai penularan penyakit berbasis lingkungan yang mengintai anak-anak di sana.
“Kami ingin memastikan tidak ada lagi warga yang buang air besar sembarangan. Dampaknya langsung ke kesehatan anak-cucu kita, seperti ancaman diare kronis,” imbuhnya.
Kendati demikian, realisasi jamban khusus pesisir ini masih membentur tembok klasik, yaitu ketersediaan anggaran daerah. Kelurahan Tanjung Laut Indah kini berkejaran dengan waktu untuk mencari celah pendanaan, baik lewat APBD maupun program kemitraan. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















