Bontang, PRANALA.CO — Laut itu tidak pernah protes. Tidak menuntut. Tidak pula berteriak saat ia keruh atau saat perutnya dipenuhi tumpahan minyak. Tapi manusia bisa melihat tanda-tandanya—ikan mati, air berlendir, bau menyengat. Maka yang perlu kita tanyakan sekarang bukan apakah laut itu marah, tapi seberapa besar kita peduli.
Dan di kota kecil yang penuh pabrik besar ini, seorang wakil rakyat menyuarakan sesuatu yang terdengar sederhana: laboratorium. Sitti Yara, Wakil Ketua DPRD Bontang, bukan sedang bicara soal alat, tapi tentang keadilan data.
“Kita butuh laboratorium yang terakreditasi,” katanya lugas, saat menanggapi isu dugaan pencemaran di perairan Bontang beberapa waktu lalu. Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, tapi agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Karena tanpa data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, maka kebijakan hanya akan jadi dugaan, dan penegakan hukum tak ubahnya seperti bayangan di air.
Bontang memang kota industri. Tapi apakah industri itu selalu harus jadi lawan dari lingkungan? “Kita tidak anti industri,” tegas Sitti. “Tapi industri juga harus taat aturan dan bertanggung jawab.” Ia menolak dikotakkan antara pro-lingkungan dan pro-industri. Ia memilih jalan tengah yang tegas: industri yang bertanggung jawab.
Dan untuk tanggung jawab itu, kita butuh alat. Alat yang dipercaya. Laboratorium terakreditasi bukan sekadar bangunan dengan mesin penguji. Ia simbol dari keseriusan. Keseriusan pemerintah menjaga laut, udara, tanah—dan manusia yang hidup dari semua itu.
“Kalau tidak, kita hanya akan terus saling curiga,” tambahnya. Warga menyalahkan perusahaan. Perusahaan bilang bukan mereka. Pemerintah hanya bisa menenangkan. Sementara laut tetap diam.
Sitti Yara berharap seruan ini tidak hanya berhenti di ruang rapat. Ia ingin pemerintah bergerak. Ia mengajak industri untuk ikut serta. “Bontang harus bisa jadi contoh. Kota industri yang ramah lingkungan. Yang peduli bukan karena takut, tapi karena sadar.” (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















Comments 1