Pranala.co, BONTANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi harapan baru bagi jutaan anak sekolah di Indonesia. Tujuannya: menekan angka stunting dan memastikan anak-anak tumbuh sehat, cerdas, serta siap belajar tanpa terkendala masalah gizi.
Namun, di balik niat baik itu, ada peringatan penting agar program ini tidak dijalankan asal-asalan. Tanpa pengawasan dan sertifikasi yang memadai, niat baik bisa berubah jadi masalah baru.
Peringatan itu datang dari Muhammad Irzal Wijaya, seorang dokter sekaligus orangtua murid di Bontang. Ia mengingatkan agar pelaksanaan program MBG harus benar-benar memperhatikan standar keamanan pangan dan higienitas.
“Penyedia makanan sebaiknya segera mengurus sertifikat SLHS dan halal. Jangan sampai program yang bagus justru menciptakan masalah seperti keracunan atau makanan tidak layak konsumsi,” tegas Irzal saat dihubungi, Jumat (10/10).
Ia menilai semangat membantu anak-anak memang penting, tapi harus diimbangi dengan sistem pengawasan yang ketat agar tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi penerima manfaat.
Menurut Irzal, pengawasan harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, pengemasan, sampai distribusi ke sekolah-sekolah.
“Setiap tahapan harus dijaga agar makanan tetap bergizi, higienis, dan aman dikonsumsi anak-anak,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Pemerintah, penyedia makanan, sekolah, hingga orang tua harus ikut aktif dalam mengawasi pelaksanaan program.
“Komunikasi antar pihak harus cepat dan terbuka. Kalau ada keluhan atau temuan, segera ditindaklanjuti,” tambahnya.
Selain pengawasan, edukasi tentang keamanan pangan juga tak kalah penting. Anak-anak, kata Irzal, perlu diajarkan untuk lebih peka terhadap kebersihan dan kualitas makanan yang mereka terima.
“Dengan edukasi sejak dini, mereka bisa mengenali makanan yang layak dan tidak. Ini bentuk perlindungan juga untuk generasi muda,” ujarnya.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekolah dan menurunkan angka stunting nasional.
Namun, kata Irzal, keberhasilan program bukan diukur dari berapa banyak makanan dibagikan, melainkan seberapa aman dan bergizi makanan itu bagi anak-anak.
“Kalau semua pihak peduli dan disiplin menjaga mutu, program ini bisa membawa manfaat besar bagi masa depan bangsa. Tapi kalau lalai, bisa menimbulkan masalah baru,” harap dia. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami









