Prey Review: Pemburu Misterius yang Mengincar Para Pendaki

pranala.co – Sekelompok pria memutuskan untuk melakukan pesta lajang dengan kegiatan yang tidak biasa, yaitu mendaki gunung dan melakukan berbagai kegiatan outdoor di sana. Bukannya refreshing, semuanya justru terjebak dalam situasi mencekam ketika menjadi mangsa pemburu misterius di hutan tersebut.

“Prey” merupakan film survival thriller terbaru yang cukup trending di Netflix Indonesia. Film Jerman ini disutradarai oleh Thomas Sieben, dibintangi oleh David Kross sebagai protagonis. Memiliki premis cukup simple, “Prey” mungkin tidak akan terlalu menghasilkan ekspektasi yang tinggi dari awal. Namun, apakah film ini berhasil membuktikan kualitasnya yang lebih dari sekedar film survival biasa?

Cukup Menegangkan pada Babak Pertama

Tipikal film dengan plot liburan menjadi mimpi buruk sudah tidak asing lagi bagi penikmat film secara umum. Ada film seperti “The Cabin in the Woods” (2011), “Modus Anomali” (2012), dan masih banyak lagi.

“Prey” dibuka dengan momen yang memperlihatkan keseruan liburan para pria yang tampak akrab. Panorama alam yang disuguhkan juga terasa indah sekaligus menimbulkan ketegangan karena kita tahu, keadaan akan segera berubah menjadi buruk. Suara senapan yang sempat memekik telinga juga menjadi pembuka yang memberikan letupan pada jantung. Berpadu dengan kepanikan yang dirasakan oleh para karakter.

Suasana suspense memang sangat terasa pada babak awal, namun tidak berkembang kemana-kemana dan membuat penonton semakin terbiasa dengan keheningan dan ketakutan yang begitu-begitu saja dari para karakter.

Keakraban dan interaksi sekelompok “sahabat” ini juga tidak kunjung menunjukan sesuatu yang lebih. Seiring berjalanya kisah, kita hanya akan tahu bahwa Roman (David Kross) dan Albert (Hanno Koffler) adalah kakak beradik, sementara karakter lain hanya terasa sebagai pelengkap yang sudah bisa diprediksi nasibnya.

Alur Cerita Kronologis, Hambar Tanpa Twist

Cerita utama dari “Prey” sudah jelas tentang perburuan manusia oleh sosok misterius. Selain plot utama, ada beberapa adegan flashback yang menunjukan adegan-adegan romantis liburan Roman dengan istrinya di lokasi yang tropis, memberikan nuansa kontras dari plot utama.

Side plot ini rupanya akan menjadi drama ala opera sabun antara Roman dan Albert. Mungkin untuk memberi motivasi tertentu bagi psikologi Roman sebagai protagonis. Memberikan konsep dilema moral, atau unsur pengkhianatan dramatis. Namun, pada akhirnya side plot yang diselipkan untuk memberikan variasi dalam cerita tak mampu menyelamatkan “Prey” dari rasa hambar.

Kita mungkin tidak memiliki ekspektasi yang tinggi akan film ini, namun kita tak akan mengira bahwa filmnya bisa sangat membosankan. Dengan premis yang sudah sangat spesifik, sutradara tak mampu mengembangkan cerita dengan berbagai detil yang seharusnya lebih brutal. Setidaknya beberapa film thriller atau horror survival yang pernah ada memiliki sekuen kebrutalan atau konsep gila, sekalipun tak jarang tidak masuk akal.

Ada beberapa ‘clue’ pada babak pertama yang membuat penonton memiliki ekspektasi tertentu, namun ‘clue’ tersebut tak akan berkembang menjadi sesuatu yang menarik.

Sekuen pembantaian yang dilancarkan pemburu misterius pun tidak ada variasi. Sekalipun konsepnya hanya tembak-tembakan, seharusnya tetap harus ‘dirancang’ bagaimana proses penembakan terasa lebih berkesan. Bahkan beberapa adegan penembakan tidak dieksekusi dengan maksimal. Salah satu detail yang sangat terlihat adalah kurangnya volume darah yang keluar dari hasil tembakan. Sangat terlihat bahwa film ini memiliki budget rendah.

Sederet Karakter Tanpa Penokohan yang Kuat

Seperti yang telah disebutkan, hanya Roman dan Albert yang menonjol sebagai karakter. Daripada film tentang perburuan manusia di hutan yang brutal, “Prey” lebih tentang isu kepercayaan antara kakak dan adik. Roman sebagai protagonis digambarkan sebagai karakter yang peduli, sementara Albert sebagai karakter egois yang sudah umum kita temukan di setiap film bertema survival. Sementara ketiga karakter lainnya nyaris tidak ada penokohan yang kuat.

Interaksi antara kelimanya juga tidak semakin membuat kita yakin bahwa mereka berteman. Dengan bonding yang terasa lemah di antara kelimanya, berbagai emosi yang sebetulnya hendak dimunculkan jadi tidak berpengaruh. Rasa peduli, pengkhianatan, perdebatan, tidak akan memberikan kehangatan atau perasaan urgensi yang menambah kepanikan.

Satu lagi yang paling tidak memiliki penokohan dan sangat krusial adalah karakter pemburu. Aktor yang pada akhirnya terungkap sebagai pemburu seakan hanya hadir di sana sebagai “properti”. Tanpa dialog, tanpa arahan akting, tanpa motivasi yang kuat, serta tidak ditunjukan kemampuan berburunya.

Karakter hantu pada film horror lainnya saja masih lebih menarik daripada karakter satu ini. Hingga pada akhirnya, ketidak becusan sutradara dalam menentukan penokohan pemburu akan membuat penonton kesal karena sudah menonton film ini sampai selesai. **

 

 

Sumber:  Cultura

More Stories
Mobil dan Motor Dinas Pemkab Kutim Masih Dipakai Pejabat Pensiunan