Pranala.co, BONTANG – Geliat ekonomi Kota Bontang kian terasa. Hingga triwulan III tahun 2025, realisasi investasi di kota berjuluk Kota Taman itu menembus Rp821,53 miliar. Angka ini setara 32,86 persen dari target tahunan Rp2,5 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan optimisme dunia usaha yang terus tumbuh di tengah berbagai tantangan ekonomi. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Muhammad Aspianur, menyebut, investasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp789,1 miliar atau 96,05 persen.
Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi Rp32,43 miliar atau 3,95 persen.
“Tren investasi di Bontang masih sangat positif. Sektor industri kimia dan perumahan tetap menjadi motor penggerak utama. Ini bukti bahwa Bontang masih menarik bagi investor,” ujar Aspianur, Jumat (31/10/2025).
Berdasarkan data DPMPTSP, sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi penyumbang terbesar investasi PMDN dengan 93,20 persen. Disusul sektor transportasi, gudang, dan komunikasi sebesar 2,51 persen, serta jasa lainnya sebesar 1,78 persen.
Sedangkan di sektor PMA, investasi terbesar datang dari bidang perumahan, kawasan industri, dan perkantoran yang menyumbang 68,83 persen. Dua sektor lainnya yakni industri makanan (27,99 persen) dan industri kimia dasar (2,09 persen) turut memberi kontribusi signifikan.
Dari sisi wilayah, Bontang Utara masih menjadi kawasan paling diminati investor. Wilayah ini mencatat realisasi investasi hingga Rp785,97 miliar atau 95,67 persen dari total investasi triwulan III.
Di bawahnya, Bontang Selatan menyumbang Rp35,22 miliar (4,28 persen), sedangkan Bontang Barat hanya Rp337 juta (0,04 persen).
“Tren ini menunjukkan Bontang Utara masih menjadi kawasan strategis dengan infrastruktur penunjang investasi paling lengkap,” jelas Aspianur.
Sepanjang triwulan III, tercatat ada 206 pelaku usaha non-UMK dengan 330 proyek yang beroperasi di Bontang. Seluruh kegiatan investasi itu menyerap 307 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 10 tenaga kerja asing (TKA).
DPMPTSP juga mencatat tingkat kepatuhan pelaporan investasi mencapai 44,17 persen. Angka itu dinilai masih perlu ditingkatkan agar data dan pengawasan investasi lebih akurat.
Dorong Iklim Usaha Kondusif
Aspianur menegaskan, pihaknya terus mendorong pelaku usaha agar aktif melaporkan kegiatan investasinya melalui sistem OSS dan LKPM.
“Kami optimistis target investasi tahun ini bisa tercapai. Pemerintah terus berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif dan mempercepat layanan perizinan,” tutupnya. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















