NIAT hati ingin mengembangkan usaha dengan modal tambahan, ratusan pelaku UMKM di Kota Bontang justru harus gigit jari. Program Kredit Bontang Kreatif (KBK) yang menawarkan pinjaman tanpa bunga alias nol persen, ternyata tidak bisa dinikmati semua orang.
Biang keroknya bukan karena syarat usaha yang rumit, melainkan rekam jejak keuangan masa lalu para pemilik usaha. Banyak pengajuan modal yang terpaksa ditolak bank karena terganjal skor merah BI checking.
Kepala Cabang BPD Kaltimtara Bontang, Ari Herlambang, membeberkan fakta mengejutkan di lapangan. Dari sekira 700 pengajuan kredit yang masuk, tidak sedikit yang langsung gugur di meja verifikasi.
"Dari total pengajuan itu, ada yang tertolak. Penyebab utamanya karena terganjal BI checking," ujar Ari, Rabu (1/7/2026).
Ari mengungkapkan, riwayat kredit bermasalah dari pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater menjadi batu sandungan terbesar. Banyak pelaku usaha mikro yang tidak menyadari bahwa keterlambatan membayar tagihan belanja digital mengunci kesempatan mereka mendapatkan bantuan modal pemerintah.
"Paling banyak itu paylater. Karena kalau macet, semua tercatat di sistem," jelasnya.
Saat ini, pihak bank masih memeriksa secara maraton sekira 200 berkas UMKM yang masuk dalam tahap lanjutan. Penyaluran Kredit Bontang Kreatif memang tidak bisa sembarangan karena menggunakan anggaran daerah.
Verifikasi berlapis tetap berjalan ketat. Petugas bank turun langsung ke lapangan untuk menyurvei lokasi usaha, menilai kelayakan bisnis, hingga menghitung kapasitas pengembalian (repayment capacity) calon debitur.
Nilai pinjaman yang cair pun tidak selalu sama dengan angka yang diajukan. Bank punya hitung-hitungan sendiri agar pelaku usaha tidak terbebani di kemudian hari.
"Misalnya pelaku usaha sembako mengajukan pinjaman Rp25 juta. Kalau dari hasil survei penghasilannya mampu menutup cicilan, baru bisa disetujui. Kalau tidak, plafon pinjaman akan disesuaikan," terang Ari.
Meski ratusan pendaftar bertumbangan, program KBK sebetulnya berjalan sangat positif. Sejak bergulir tahun lalu, modal usaha yang sudah mengalir ke kantong-kantong UMKM Bontang telah menembus Rp1,8 miliar.
Kabar baiknya, tingkat kepatuhan para debitur di Bontang sejauh ini sangat jempolan. Uang modal yang dipinjamkan berputar dengan sehat di pasar.
"Alhamdulillah sejauh ini lancar semua. Tidak ada kredit macet," kata Ari.
Pemerintah Kota Bontang sendiri sudah menyiapkan bantalan anggaran yang cukup besar untuk menyokong program ini, yakni mencapai Rp12,5 miliar. Artinya, kesempatan bagi pelaku usaha lain untuk mendapatkan modal tanpa bunga masih terbuka lebar.
Bagi UMKM yang tertarik, Ari mengingatkan satu syarat mutlak selain bersih dari catatan pinjol: usaha wajib sudah berjalan minimal enam bulan. Hal ini diperlukan agar bank bisa mengukur aktivitas ril dan perputaran uang usaha saat survei dilakukan. [FR]
















