SAAT ramainya wacana pendidikan gratis dan sekolah ramah anak, kabar meninggalnya Mandala Rizky Saputra, siswa SMK Negeri 4 Samarinda, justru membuka sisi lain yang jarang terlihat: ketika seorang pelajar tetap memaksakan diri memakai sepatu kekecilan karena kondisi ekonomi keluarga.
Mandala, siswa jurusan pemasaran di Samarinda, meninggal dunia pada 24 April 2026 setelah sebelumnya mengalami penurunan kondisi fisik dan pembengkakan pada kaki. Informasi itu dikonfirmasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur (Kaltim) setelah melakukan penelusuran terhadap kronologi sakit yang dialami siswa tersebut.
Dalam keterangannya, Disdikbud Kaltim) mengungkap kondisi Mandala mulai menurun setelah menjalani praktik kerja lapangan di Ramayana Robinson Jalan M Yamin Samarinda pada 9 Februari hingga 20 Maret 2026. Sebagai pramuniaga, ia disebut harus lebih banyak berdiri selama bekerja.
Namun di balik aktivitas itu, tersimpan persoalan yang belakangan menyita perhatian publik. Menurut keterangan keluarga kepada sekolah, ukuran kaki Mandala berada di kisaran 43 hingga 44, tetapi ia sehari-hari menggunakan sepatu ukuran 40 karena keterbatasan ekonomi.
“Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan,” demikian penjelasan Disdikbud Kaltim.
Mandala sempat kembali bersekolah pada 30 Maret 2026. Namun sehari kemudian, pihak sekolah meminta ia beristirahat di rumah karena kondisi fisiknya memburuk. Sejak saat itu, ia tidak lagi masuk sekolah dan menjalani perawatan di rumah.
Kondisi ekonomi keluarga disebut menjadi hambatan lain. Pada 8 April 2026, ibu Mandala menghubungi wali kelas untuk meminta bantuan pinjaman biaya pengobatan. Sekolah kemudian membantu biaya berobat sebesar Rp1,1 juta untuk pengobatan di Tenggarong.
Ketika guru melakukan kunjungan ke rumah pada 21 April 2026, kondisi kaki Mandala disebut masih lemas dan membengkak. Guru menyarankan agar dibawa ke fasilitas kesehatan, tetapi keluarga disebut terkendala biaya dan tunggakan rumah sakit sebesar Rp2,4 juta. Sekolah lalu membantu pengurusan BPJS kesehatan agar siswa tersebut bisa mendapat penanganan medis.
Dua hari kemudian, kondisi Mandala sempat dilaporkan membaik. Pembengkakan pada kaki disebut mulai berkurang. Sekolah bahkan berencana membelikan sepatu baru yang sesuai ukuran kaki siswa tersebut. Namun rencana itu tak sempat terwujud. Pada 24 April 2026, pihak keluarga menyampaikan kabar bahwa Mandala meninggal dunia.
Kasus ini memantik perhatian luas bukan hanya karena dugaan sepatu sempit yang dipakai korban, tetapi juga karena memperlihatkan persoalan yang lebih besar: akses kesehatan dan tekanan ekonomi yang masih dialami sebagian keluarga pelajar. Disdikbud Kaltim sendiri menegaskan belum dapat memastikan penyebab kematian Mandala karena tidak ada diagnosis medis resmi dari fasilitas kesehatan.
“Karena tidak ada diagnosa medis dari layanan kesehatan maka kita tidak dapat menyimpulkan bahwa penyebab meninggalnya murid bukan karena sepatu,” tulis Disdikbud dalam keterangannya. [DIAS/RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















