
BERAU, Pranala.co — Kasus kekerasan anak dan perempuan di Berau kian memantik keprihatinan. Ironisnya, banyak korban masih di bawah umur. Anggota DPRD Berau, Thamrin, menilai maraknya kasus tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.
“Banyak kasus. Artinya, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Ini menjadi peringatan bagi kita semua,” kata Thamrin, ditemui beberapa waktu lalu.
Menurut Thamrin, kekerasan terhadap anak dan perempuan bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman serius bagi masa depan generasi penerus bangsa. Dampaknya bukan hanya fisik, melainkan juga psikologis yang bisa membekas panjang dalam kehidupan korban.
Ia pun mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas dan profesional dalam menangani setiap perkara yang masuk. Bahkan, ia menekankan pentingnya pemberian hukuman berat sebagai efek jera.
“Bila perlu diberikan hukuman yang berat agar menimbulkan efek jera,” ujarnya.
Thamrin mengingatkan, jika kasus-kasus seperti ini dibiarkan tanpa penanganan serius, dampaknya akan merusak tatanan sosial dan masa depan anak-anak Berau.
Karena itu, langkah penindakan harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan. Selain penegakan hukum, ia juga mendorong agar aparat serta instansi terkait lebih gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Edukasi hukum dan penyadaran akan dampak sosial kekerasan dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kasus kekerasan anak.
“Masyarakat harus diberi pemahaman tentang dampak hukum dan dampak sosial dari tindakan kekerasan,” katanya.
Tak hanya itu, ia mengusulkan agar kegiatan sosialisasi melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pendekatan moral dan keagamaan diyakininya mampu menyentuh kesadaran kolektif masyarakat dalam melindungi anak dan perempuan dari segala bentuk kekerasan.
“Dengan pendekatan moral dan keagamaan, diharapkan pesan-pesan pencegahan bisa lebih menyentuh dan diterima masyarakat,” pungkasnya. (ADS/DPRD BERAU)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















