BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mengingatkan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026. Peringatan ini menekankan satu hal: siaga lebih awal, atau menghadapi dampak lebih besar.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menyebut kesiapsiagaan lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi dinamika iklim tahun ini.
“Semua pihak terkait kami harap melakukan kesiapsiagaan menghadapi dinamika iklim saat ini dan prakiraan kemarau yang akan terjadi mendatang,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
BMKG meminta sejumlah instansi untuk bergerak serentak, mulai dari BPBD, dinas pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, hingga pemadam kebakaran. Fokusnya jelas: mitigasi kekeringan, pengelolaan air, hingga pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG Kaltim menilai, musim kemarau bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi membawa konsekuensi luas bagi sektor kehidupan. Di sektor pertanian, keterbatasan air menjadi ancaman utama.
Tanaman di lahan kering berpotensi gagal tumbuh atau menghasilkan panen yang tidak maksimal jika suplai air tidak terjaga. Karena itu, pemerintah daerah diminta mengoptimalkan sumber daya air, mulai dari waduk, bendungan, irigasi, hingga sumur cadangan.
Di sisi lain, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat seiring menurunnya kelembapan tanah dan vegetasi.
“Instansi terkait perlu memperkuat kolaborasi untuk mitigasi karhutla,” kata Riza.
BMKG memetakan awal musim kemarau di Kalimantan Timur terjadi bertahap, dimulai dari pertengahan hingga akhir Juni.
Sejumlah wilayah seperti Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara diperkirakan mulai memasuki kemarau pada pertengahan Juni hingga Agustus. Kota Bontang dan Samarinda menyusul pada pertengahan hingga akhir Juni.
Sementara itu, Balikpapan, Paser, Kutai Barat, dan Penajam Paser Utara diprediksi mengalami kemarau pada akhir Juni hingga awal Juli.
Berbeda dengan daerah lain, Kabupaten Mahakam Ulu diperkirakan tidak mengalami musim kemarau, karena termasuk wilayah dengan pola hujan sepanjang tahun.
“Di Kaltim ada 20 zona musim. Sebanyak 16 zona memiliki dua musim, sedangkan empat zona lainnya mengalami hujan sepanjang tahun,” jelas Riza. [RE]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















