AJARAN Rasulullah SAW menempatkan kejujuran dan kesantunan sebagai prinsip utama dalam berdagang, sebagaimana tertuang dalam sejumlah hadis yang diriwayatkan para sahabat, di antaranya Jabir RA, Abu Qatadah RA, dan Abu Dzar RA.
Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya sikap baik dalam setiap transaksi, baik saat menjual, membeli, maupun menagih hak. Pesan ini menjadi fondasi etika perdagangan yang diyakini membawa keberkahan.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
عن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: رَحِمَ اللهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى
Artinya: “Rahmat Allah atas orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan.”
Hadis ini menegaskan bahwa sikap santun bukan hanya etika sosial, tetapi juga bernilai ibadah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan pedagang untuk tidak berlebihan dalam bersumpah saat menawarkan barang. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa kebiasaan tersebut dapat mempercepat terjadinya transaksi, tetapi menghilangkan keberkahannya.
عن أبي قتادة رضي الله عنه : أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إيَّاكُمْ وكَثْرَةَ الحَلِفِ في البيع، فإنه يُنَفِّقُ ثم يَمْحَقُ
Artinya: Dari Abu Qatadah RA dia berkata, “Dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan suatu penjualan yang cepat lalu menghapuskan berkah.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Peringatan lebih tegas disampaikan terkait sumpah palsu. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa pelaku sumpah palsu dalam perdagangan termasuk golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak disucikan, dan mendapat azab yang pedih.
عن أبي ذر، عن النبي ﷺ قال: ثلاثة لا يكلمهم اللَّه يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم قال: فقرأها رسول اللَّه ﷺ ثلاث مرار. قال أبو ذر: خابوا وخسروا، من هم يا رسول اللَّه؟ قال: المسبل، والمنان، والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
Dari Abu Dzar RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada tiga orang yang padanya Allah tidak akan berbicara pada Hari Kebangkitan, ke arahnya Allah tidak melihat, yang tidak Allah sucikan dan mereka mendapat azab yang pedih.”
Abu Dzar bertanya, “Mereka adalah orang yang kalah dan putus asa. Siapa mereka wahai Rasulullah?”
Nabi Muhammad SAW menjawab, “Orang yang melebihkan kainnya melebihi mata kaki, orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan seorang dari mereka adalah orang yang menghasilkan penjualan yang cepat dari suatu barang dengan sumpah palsu.” (HR Imam Muslim).
Di sisi lain, kejujuran menjadi nilai utama yang dijunjung tinggi. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW menyatakan bahwa pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Dari Abu Sa’id RA, Rasulullah SAW bersabda, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para Nabi, orang-orang jujur dan para syuhada.” (HR Imam Tirmidzi).
Afzalurrahman dalam bukunya Nabi Muhammad sebagai Seorang Pedagang menggambarkan sosok Nabi sebagai pedagang yang santun, jujur, dan mengedepankan keadilan. Praktik tersebut menjadi teladan dalam membangun kepercayaan dalam aktivitas ekonomi.
Ajaran-ajaran tersebut hingga kini menjadi rujukan dalam praktik perdagangan, terutama dalam membangun hubungan yang adil antara penjual dan pembeli, serta menjaga integritas di tengah persaingan usaha. [RED]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















