LANGKAH kecil di pekarangan rumah kini mulai membuahkan hasil manis bagi para ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Tangguh, Kelurahan Guntung, Bontang. Senyum sumringah tidak bisa disembunyikan saat telur-telur perdana dari bantuan ayam petelur yang mereka kelola mulai menghasilkan rupiah.
Siapa sangka, berawal dari ketelatenan merawat unggas, kelompok emak-emak ini sekarang mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mengantongi tambahan penghasilan.
Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang menangkap langsung geliat positif ini saat turun ke lapangan Kamis (11/6/2026). Kedatangan tim yang dipimpin langsung Kepala DKP3 Bontang, Ahmad Aznem, bertujuan untuk melihat dari dekat perkembangan program pemberdayaan tersebut.
Ahmad Aznem menegaskan bahwa monitoring ini sangat krusial. Pemerintah ingin memastikan seluruh bantuan yang mengucur ke masyarakat benar-benar produktif dan tidak mandek di tengah jalan.
“Monitoring ini menjadi bagian penting untuk memastikan bantuan benar-benar produktif dan berkelanjutan,” ujar Aznem di sela-sela kunjungannya bersama jajaran Kabid Peternakan dan pihak CSR PT KMI.
Sebelum sukses memanen, KWT Tangguh Bontang mendapat sokongan penuh dari PT KMI. Perusahaan tersebut menyalurkan bantuan berupa bibit ayam remaja siap produksi (pullet), pembuatan kandang, hingga pakan berkualitas.
Hasil kerja keras para ibu ini langsung terlihat nyata di lokasi. Sebanyak 10 ekor ayam kini sudah memasuki masa produktif. Hebatnya, setiap ekor ayam rata-rata mampu menghasilkan satu butir telur per hari. Sebuah capaian optimal untuk peternak skala rumahan.
Meski masih dalam skala kecil, roda ekonomi kelompok ini sudah mulai berputar. Mereka tercatat telah berhasil menjual tiga piring telur perdana dengan harga Rp58.000 per piring.

“Ini bukti bahwa bantuan dimanfaatkan dengan baik dan sudah mulai memberikan tambahan pendapatan,” kata Aznem dengan nada bangga.
Pemberdayaan ini ternyata membawa dampak yang lebih dalam dari sekadar angka penjualan. Melalui budidaya ayam petelur ini, ruang belajar baru bagi perempuan di tingkat lokal otomatis tercipta.
Para anggota kelompok kini mahir mempraktikkan manajemen peternakan modern. Mereka belajar langsung cara merawat kandang yang bersih, meracik pakan, hingga menjaga kebugaran unggas agar tetap produktif bertelur.
Aznem memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi emak-emak KWT Tangguh. Baginya, modal utama keberhasilan program ini bukanlah besarnya bantuan awal, melainkan ketekunan dalam merawatnya.
Ia pun berpesan agar kelompok ini menjaga ketat kebersihan dan sanitasi kandang. Langkah preventif ini penting demi menangkal serangan penyakit ternak yang kerap melanda saat cuaca tak menentu.
“Kalau dikelola dengan serius, ini bisa berkembang menjadi usaha yang lebih besar dan berkelanjutan,” tuturnya optimis. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














