SEKIRA 2 ribu guru swasta di Bontang kini menunggu kepastian bantuan laptop dari pemerintah kota, setelah Wali Kota Neni Moerniaeni menyatakan rencana perluasan program tersebut, Sabtu (2/5/2026). Namun, realisasinya belum pasti karena masih bergantung pada kemampuan anggaran daerah.
Pernyataan itu muncul setelah sebelumnya bantuan serupa lebih dulu diberikan kepada guru sekolah negeri. Ketimpangan akses perangkat ini menjadi perhatian, seiring meningkatnya kebutuhan pembelajaran berbasis digital di sekolah.
“Guru negeri sebelumnya sudah menerima bantuan laptop. Selanjutnya, kami akan mengupayakan hal serupa bagi guru swasta,” kata Neni.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang menegaskan program tersebut belum bisa langsung dijalankan. Kepala Disdikbud Abdu Safa Muha menyebut, keputusan akhir akan ditentukan melalui pembahasan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD).
Menurut Safa, skala kebutuhan menjadi salah satu pertimbangan utama. Dengan jumlah guru swasta yang mencapai ribuan, pengadaan perangkat memerlukan alokasi anggaran yang tidak kecil.
“Prinsipnya kami siap menjalankan arahan. Namun tetap menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia,” ujarnya.
Saat ini, kebutuhan laptop untuk guru sekolah negeri di Bontang disebut telah terpenuhi. Kondisi itu memperjelas kesenjangan fasilitas antara guru negeri dan swasta, terutama dalam mendukung proses belajar mengajar berbasis teknologi.
Pemerintah kota masih menghitung kemungkinan memasukkan program ini dalam perubahan anggaran tahun berjalan. Jika tidak memungkinkan, realisasi berpotensi bergeser ke tahun berikutnya.
Sebagai pembanding, Pemkot Bontang pada tahun lalu telah menyalurkan 256 unit laptop kepada guru. Program tersebut dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari upaya digitalisasi pendidikan di Bontang. [DIAS]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















