TEKANAN fiskal yang melanda pemerintah daerah mulai berdampak nyata pada fasilitas pelayan publik. Kali ini, RSUD Taman Husada Bontang terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran akibat merosotnya pasokan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Manajemen rumah sakit pelat merah ini harus memutar otak agar operasional harian tetap berjalan. Kebijakan ikat pinggang pun diambil demi memastikan layanan kesehatan warga tidak kendor.
Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr Suhardi, mengungkapkan bahwa struktur pembiayaan rumah sakit saat ini mengandalkan dua sumber utama. Komposisinya berimbang, 50 persen dari APBD dan 50 persen dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Khusus untuk gaji ASN dan PPPK, pengeluarannya memang masih ditanggung penuh pemerintah kota,” ujar Suhardi, Minggu, 5 Juli 2026.
Namun, cerita berbeda terjadi pada sektor operasional. Menipisnya kucuran APBD membuat porsi anggaran rumah sakit ikut menyusut tajam. Kebijakan ini memaksa manajemen mengalihkan tumpuan pembiayaan pada pendapatan mandiri lewat jalur BLUD.
Dampak efisiensi ini langsung memukul kegiatan yang bersifat rutin. Suhardi mengakui, salah satu pos anggaran yang langsung terkena dampak paling besar adalah biaya perjalanan dinas pegawai.
“Perjalanan dinas sudah kami potong habis-habisan. Sekarang kami benar-benar selektif dalam penggunaan anggaran,” kata Suhardi.
Bukan hanya urusan dinas luar daerah, program peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) juga ikut terdampak. Demi menekan pengeluaran, RSUD Bontang kini menyetop pengiriman pegawai untuk belajar di luar kota.
Sebagai gantinya, pihak manajemen memaksimalkan metode in house training atau pelatihan internal di lingkungan rumah sakit sendiri.
“Pengembangan kompetensi pegawai tidak boleh berhenti, tapi formatnya kami geser ke internal agar jauh lebih efisien,” ucapnya lagi.
Langkah ini juga merembet ke urusan dapur operasional lainnya, termasuk pembelian bahan bakar minyak (BBM). Manajemen kini memilah dengan ketat penggunaan bahan bakar harian.
Prioritas utama diarahkan untuk fasilitas kritis yang bersentuhan langsung dengan keselamatan pasien. Dana BBM difokuskan untuk menjaga pasokan listrik cadangan lewat genset dan pergerakan mobil operasional ambulans.
Meskipun ruang gerak anggaran kini menjadi sangat terbatas, Suhardi menjamin kenyamanan dan kualitas perawatan pasien di RSUD Taman Husada Bontang tidak akan turun kelas.
“Kami berupaya keras tetap memberikan pelayanan terbaik. Efisiensi ini murni masalah pengelolaan anggaran di internal agar tetap tepat sasaran, bukan mengurangi hak pasien,” tutur Suhardi memungkasi percakapan. (*)

















