ANCAMAN lonjakan harga bahan pokok membayangi masyarakat Kutai Timur (Kutim) dalam beberapa pekan ke depan. Pemerintah daerah pun bergerak cepat menyusun strategi demi menjaga isi dompet warga tetap aman.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, langsung menginstruksikan jajarannya untuk bergerak ke lapangan. Targetnya: mendata dan memperkuat gerakan pertanian terpadu (integrated farming) yang kini mulai menjamur di halaman rumah warga.
Langkah taktis ini diambil usai rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat. Ardiansyah ingin memastikan pasokan pangan di tingkat rumah tangga tidak goyah.
“Kita sebenarnya bersyukur karena masyarakat sudah mulai bergerak dengan konsep integrated farming,” ujar Ardiansyah di Sangatta, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, banyak komunitas dan rumah tangga di Kutai Timur yang sukses memanfaatkan lahan terbatas. Mereka mengombinasikan budidaya sayuran, peternakan ayam, hingga kolam ikan dalam satu kawasan terpadu.
Sistem ini terbukti ampuh. Selain kebutuhan dapur harian tercukupi tanpa harus membelinya di pasar, tabungan keluarga otomatis ikut meningkat.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Pertanian kini diminta melacak peta sebaran program ini. Fokus pembinaan akan diarahkan ke wilayah yang masih punya lahan potensial, seperti Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.
Namun, pemerintah daerah tidak bisa bersantai. Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmy, langsung meniup peluit peringatan terkait momentum tahun ajaran baru sekolah yang dimulai pekan depan.
“Minggu depan sekolah sudah aktif kembali. Kondisi itu rawan memicu kenaikan harga komoditas seperti minyak goreng, daging ayam, hingga bumbu dapur,” ungkap Jimmy.
Tantangan makin berat karena faktor alam. Cuaca buruk akibat hembusan angin selatan kini mulai membuat nelayan lokal ragu untuk melaut, yang berpotensi memicu kelangkaan pasokan ikan segar di pasar Sangatta.
Melalui pendataan yang akurat, Pemkab Kutim berharap program pertanian terpadu ini bisa menjadi bantalan ekonomi yang kuat bagi masyarakat, sekaligus memastikan roda ekonomi Kutai Timur tetap stabil di tengah ketidakpastian cuaca dan pasar. (*)
















