RUANG perawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang kini kian sesak. Lonjakan pasien yang terus berdatangan setiap hari membuat fasilitas kesehatan pelat merah ini mulai kewalahan menampung warga yang membutuhkan rawat inap.
Saban hari, selasar dan ruang tunggu riuh oleh antrean. Kenyataan di lapangan menunjukkan angka kunjungan harian yang timpang jauh dengan ketersediaan fasilitas. Rumah sakit andalan masyarakat Bontang ini sedang berada di titik nadir kapasitasnya.
Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, membeberkan fakta pelik yang dihadapi jajarannya. Saat ini, rumah sakit tersebut hanya diperkuat 154 tempat tidur untuk ketegori rawat inap. Angka yang sangat minim jika disandingkan dengan arus pasien baru.
“Artinya, kebutuhan pelayanan terus meningkat, sementara kapasitas yang ada masih sangat terbatas,” ujar dr. Suhardi kepada Pranala.co, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menariknya, beban berat yang dipikul RSUD Taman Husada Bontang bukan sekadar akibat ledakan demografi lokal. Rumah sakit ini rupanya telah menjelma menjadi magnet fasilitas kesehatan bagi wilayah satelit di sekitarnya.
Pasien yang bertaruh nasib untuk sembuh di sini mengalir deras dari luar daerah. Mulai dari Kutai Timur, Berau, hingga kawasan pelosok di perbatasan Kutai Kartanegara. Kepercayaan tinggi dari masyarakat lintas kabupaten ini bagai pisau bermata dua.
“Ini menjadi hal positif, karena menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan kami. Namun di sisi lain, tentu menuntut kesiapan fasilitas yang jauh lebih memadai,” kata Suhardi menjelaskan dilema yang terjadi.
Manajemen rumah sakit tidak tinggal diam melihat pasien rawat inap Bontang yang terus berjejal. Satu-satunya solusi jangka panjang yang rasional adalah melakukan ekspansi besar-besaran melalui cetak biru pembangunan Gedung C.
Gedung baru ini diproyeksikan menjadi jawaban atas keterbatasan ruang isolasi dan perawatan intensif. Suhardi pun menaruh harapan besar pada komitmen Pemerintah Kota Bontang, terutama Wali Kota, agar proyek strategis ini tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.
“Pembangunan Gedung C ini sudah sangat mendesak. Bukan hanya untuk masyarakat Bontang, tetapi juga demi keberlangsungan pelayanan kesehatan regional,” ucapnya serius.
Lampu hijau proyek ini sayangnya masih tertahan tembok tebal bernama anggaran. Berdasarkan kalkulasi Rencana Anggaran Biaya (RAB), megaproyek ini menuntut suntikan dana yang tidak sedikit, mencapai Rp430 miliar. Sebuah angka yang membutuhkan political will kuat dari pemangku kebijakan.
Sembari menunggu kepastian dana segar ratusan miliar tersebut jatuh, manajemen RSUD Taman Husada Bontang memilih bergerak cepat dengan sumber daya yang tersisa. Strategi efisiensi pelayanan diterapkan ketat agar tidak ada pasien yang telantar di IGD.
“Kami tidak bisa pasrah dan menunggu. Pelayanan kesehatan menyangkut nyawa manusia, jadi harus tetap berjalan. Kami optimalkan ruang dan fasilitas yang ada semaksimal mungkin,” tegas Suhardi.
Langkah taktis juga dibuktikan dengan rampungnya seluruh dokumen administratif krusial. Mulai dari dokumen Analisis Dampak Lalu Lintas alias AMDALALIN hingga Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) sudah tersusun rapi di meja kerja. Begitu anggaran cair, alat berat bisa langsung bekerja. (*)


















