ADA suasana cair di tengah prosesi resmi pengambilan sumpah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda, Selasa (26/5/2026). Tawa sempat pecah ketika Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyinggung lagu viral yang belakangan ramai di media sosial.
“Jangan cuma hafal lagu, ingat sumpah janjinya,” kata Andi Harun di hadapan 96 PNS baru di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, Jalan S Parman.
Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta. Apalagi saat Andi Harun menyebut lagu “Veronika” yang sedang ramai di media sosial.
“Sekarang kalau ditanya semua pegawai pasti hafal yang sifatnya viral-viral. Tapi belum tentu bisa ingat, hafal apa yang sudah menjadi komitmen,” ujarnya.
Di balik kalimat ringan itu, Andi Harun sebenarnya sedang mengingatkan soal hal yang jauh lebih besar: tanggung jawab moral seorang ASN.
Andi Harun menegaskan pengambilan sumpah bukan sekadar acara administratif tahunan. Menurutnya, momen itu adalah titik awal pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa status sebagai PNS bukan hanya soal pekerjaan tetap atau jabatan birokrasi. Ada amanah besar yang ikut melekat.
“Menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil itu adalah amanah. Amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, loyalitas, disiplin, serta semangat melayani masyarakat,” tegasnya.
Pesan itu terasa relevan di tengah sorotan publik terhadap pelayanan birokrasi yang masih sering dikeluhkan lambat, rumit, bahkan kadang menyulitkan warga.
Andi Harun menyebut masyarakat kini menaruh harapan besar kepada ASN untuk menghadirkan pelayanan publik yang profesional, cepat, adil, dan akuntabel.
Karena itu, ia meminta para ASN benar-benar memahami sumpah yang telah diucapkan di atas kitab suci masing-masing.
“Pegang teguh sumpah janji yang tadi saudara-saudara ikrarkan. Itu tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada pimpinan, tapi lebih tinggi di hadapan Tuhan menurut iman kita masing-masing,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Andi Harun juga menyoroti tantangan ASN di era media sosial dan banjir informasi digital.
Ia meminta pegawai pemerintah tidak mudah terseret hoaks, menjaga etika bermedia sosial, dan menjauhi praktik-praktik melanggar hukum.
Salah satu yang disinggung tegas adalah pungutan liar. “Kalau ada pimpinan memerintahkan pungli, tolak. Karena negara dan agama tidak pernah memerintahkan itu,” ujarnya.
Kalimat itu diucapkan dengan nada serius. Pesannya jelas: integritas tidak boleh dikompromikan, siapa pun yang memerintahkannya.
Tak hanya bicara soal moral dan disiplin, Andi Harun juga menyinggung perubahan sistem birokrasi di lingkungan Pemkot Samarinda.
Ia mengatakan manajemen talenta ASN akan menjadi dasar penilaian kinerja sekaligus penentuan tambahan penghasilan pegawai (TPP).
Menurutnya, sistem itu diterapkan agar birokrasi lebih profesional dan berbasis meritokrasi.
“Orang yang nilai kinerjanya sembilan tentu tidak fair kalau TPP-nya sama dengan yang nilainya tiga atau lima,” katanya.
Dengan sistem tersebut, ASN yang bekerja baik akan mendapatkan penghargaan yang sepadan. Sebaliknya, pegawai dengan kinerja rendah tidak bisa lagi berharap perlakuan yang sama.
Di akhir sambutannya, Andi Harun berharap para ASN baru mampu menjadi aparatur yang adaptif dan terus meningkatkan kompetensi diri.
Ia ingin birokrasi Samarinda bergerak lebih cepat menghadapi tantangan zaman, tanpa kehilangan integritas dan semangat melayani masyarakat. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














