PEMERINTAH Kabupaten Kutai Timur (Pemkanb Kutim) membawa 22 usulan program prioritas ke forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Provinsi Kalimantan Timur untuk rencana 2027. Usulan itu tidak sekadar daftar proyek, tetapi mencerminkan persoalan mendasar yang masih dihadapi warga—banjir, jalan rusak, hingga keterbatasan akses pendidikan.
Usulan tersebut disampaikan Asisten Sekretaris Kabupaten Bidang Perencanaan Pembangunan, Noviari Noor, mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, di Sangatta, Kamis (30/4/2026). Dia menekankan bahwa program yang diajukan menyasar kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Masalah banjir menjadi salah satu fokus utama. Kutim mengusulkan pembangunan pengamanan tebing dan tanggul di sejumlah titik rawan di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.
Selain itu, normalisasi Sungai Sangkima Lama serta pembangunan Kanal III Soekarno Hatta menuju Sungai Kenyamukan diajukan untuk memperbaiki sistem drainase yang selama ini kerap memicu genangan saat curah hujan tinggi.
Di sisi lain, persoalan konektivitas juga menjadi sorotan. Rekonstruksi Jalan Abdul Wahab Syahranie di Sangatta dan peningkatan ruas jalan provinsi dari Simpang Kaliorang hingga batas Kabupaten Berau masuk dalam daftar prioritas. Infrastruktur jalan dinilai berpengaruh langsung terhadap mobilitas warga dan distribusi logistik.
Tidak hanya itu, Kutim juga mengusulkan pemasangan penerangan jalan umum tenaga surya di ruas Muara Lembak–Sempayau. Sementara di kawasan permukiman, peningkatan jalan lingkungan di Teluk Lingga, Singa Gembara, dan Swarga Bara diajukan untuk memperbaiki kualitas hunian warga.
Sektor pertanian turut mendapat perhatian. Peningkatan jaringan irigasi di Daerah Irigasi Tanah Abang dan Melan di Kecamatan Long Mesangat diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pada bidang pendidikan, pemerintah daerah mengusulkan pembangunan sekolah baru dan rehabilitasi fasilitas pendidikan, termasuk SMK Negeri 01 Kaubun, SMA Negeri 2 Sangatta Selatan, serta SMKN 1 Sangkulirang. Langkah ini diarahkan untuk memperluas akses pendidikan menengah di wilayah yang terus berkembang.
Di luar kebutuhan dasar tersebut, Kutim juga menaruh harapan besar pada percepatan pengembangan kawasan industri Maloy. Kepala Bappeda Kutim, Januar Bayu Irawan, menilai kawasan itu berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru, namun masih membutuhkan dukungan kuat dari pemerintah provinsi.
“Fokus utama terkait Maloy. Peran provinsi untuk menuntaskan progres Maloy mesti dioptimalkan,” ujar Januar. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














