Pranala.co, BALIKPAPAN — Polisi menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan penjaga toko kelontong yang menewaskan Valentino Prawira Wardhana (18). Dalam rekonstruksi yang berlangsung di tempat kejadian perkara (TKP), Jalan MT Haryono, RT 08, Kelurahan Gunung Samarinda Baru, Balikpapan Utara, Jumat (13/2/2025), tersangka berinisial M (61) memperagakan total 28 adegan.
Dari pantauan media ini, suasana rekonstruksi berlangsung tegang, terutama saat tersangka dibawa ke lokasi kejadian. Sejumlah warga dan keluarga korban tampak memadati area untuk menyaksikan langsung jalannya proses tersebut.
Setibanya di TKP, teriakan keras warga tertuju kepada M. Aparat kepolisian pun berjaga ketat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kerumunan warga sempat menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi tersendat. Jalanan menjadi padat karena banyaknya masyarakat yang datang untuk menyaksikan rekonstruksi peristiwa berdarah tersebut.
Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Balikpapan, Husni, menjelaskan bahwa awalnya penyidik hanya menyampaikan adanya 20 adegan. Namun dalam perkembangannya, jumlah adegan bertambah.
“Nah, sebenarnya ada 20 adegan sesuai dengan yang disampaikan penyidik. Namun dalam perjalanannya terdapat penambahan adegan,” ujarnya.
Menurutnya, penambahan itu berkaitan dengan pengakuan tersangka. Awalnya, pelaku mengaku hanya melakukan tiga kali penusukan terhadap korban.
Namun hasil visum menunjukkan jumlah luka tusuk jauh lebih banyak. “Jadi, berdasarkan hasil visum ditemukan lebih dari 7 sampai 8 kali penusukan,” jelas Husni.
Lanjut, kata dia, luka tusuk tersebut banyak terdapat di bagian perut dan dada, termasuk satu luka di bagian kepala. Di samping itu, poin krusial dalam rekonstruksi berada pada adegan penusukan pertama dan kedua.
“Poin utama berada pada adegan saat penusukan pertama atau kedua, sekitar adegan ke-8 dan ke-9,” ungkapnya. Husni menambahkan, dalam rekonstruksi juga mengungkap bagian penyembunyian barang bukti milik tersangka.
Di mana, penyembunyian barang bukti itu diperagakan pada adegan ke-22. “Penyembunyian barang bukti terjadi sekitar adegan ke-22, yakni disembunyikan di payung,” ungkapnya.
Lebih lanjut, mengenai sikap tersangka selama rekonstruksi, Husni menyebut awalnya M tidak sepenuhnya kooperatif, terutama soal jumlah tusukan.
Namun setelah dikonfirmasi dan dicocokkan dengan hasil visum, tersangka akhirnya mengakui penusukan dilakukan sebanyak tujuh hingga delapan kali.
“Awalnya tidak kooperatif terkait pengakuan tiga tusukan itu. Namun setelah dicocokkan dengan hasil visum, tersangka akhirnya mengakui,” tegasnya.
Rekonstruksi ini menjadi bagian penting dalam melengkapi berkas perkara sebelum proses hukum berlanjut ke tahap berikutnya.
Sebelumnya, peristiwa berdarah ini terjadi pada terjadi pada Senin (26/1/2026) lalu. Polisi mengungkap motif pembunuhan dilatarbelakangi rasa sakit hati pelaku terhadap ucapan korban.
Kasat Reskrim Polresta Balikpapan AKP Zeska Julian Taruna menjelaskan, sebelum kejadian, pelaku beberapa kali mendatangi toko tempat korban bekerja untuk membeli rokok. Saat itu pelaku menilai harga rokok lebih mahal dibandingkan tempat ia berjualan.
“Jadi korban menanyakan harga rokok, lalu pelaku menyampaikan bahwa harganya lebih mahal dibandingkan tempat dia berjualan,” ujar Zeska dalam konferensi pers, Jumat (30/1/2026).
Korban menanggapi bahwa jika pelaku ingin membeli dipersilakan, dan jika tidak pun tidak menjadi masalah. Pernyataan tersebut diduga memicu rasa tersinggung pelaku.
Pada hari kejadian sekitar pukul 11.30 Wita, tersangka kembali ke warung dengan alasan membeli pengharum pakaian. Harga barang itu kembali dianggap lebih mahal. Saat di kasir, pelaku berpura-pura hendak mengambil uang ke rumah.
“Namun ternyata pelaku pulang bukan untuk mengambil uang, melainkan mengambil pisau,” ungkap Zeska.
Pelaku lalu kembali ke toko, sempat mengajak korban berbincang, kemudian memegang tangan korban dan menikam perutnya menggunakan pisau dapur. Berdasarkan rekaman CCTV, korban sempat melarikan diri ke bagian belakang toko, namun dikejar dan kembali ditikam berkali-kali hingga meninggal dunia.
“Motifnya adalah sakit hati terhadap perkataan korban,” tegas Zeska. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















