SAMARINDA - Kabupaten Mahakam Ulu atau Mahulu tercatat sebagai daerah dengan angka stunting terendah di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan penurunan yang signifikan dari 20,30 persen menjadi 14,80 persen per 23 April 2024. Sementara itu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih berjuang dengan angka stunting yang tinggi, mencerminkan kebutuhan akan intervensi yang lebih besar.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim, Sri Wahyuni, mengungkapkan keprihatinannya atas situasi di PPU saat membuka Rembuk Stunting 2024 tingkat provinsi di Hotel Mercure, Samarinda belum lama ini.
“Kami tidak bisa memberikan alokasi bantuan keuangan tanpa input di SIPD (Sistem Informasi Pembangunan Daerah),” ujarnya, menyoroti kurangnya usulan dari beberapa kabupaten/kota untuk mendapatkan bankeu (bantuan keuangan) spesifik yang dialokasikan Pemprov Kaltim.
Pemprov Kaltim telah menginisiasi berbagai kebijakan untuk percepatan penurunan stunting, termasuk alokasi bankeu spesifik. Namun, Sri Wahyuni mencatat anomali yang terjadi pada 2025, di mana Kabupaten Mahulu dan PPU tidak mengajukan usulan bankeu spesifik, sehingga hanya delapan kabupaten/kota yang akan menerima bantuan tersebut tahun depan.
“Kami berharap kabupaten/kota yang tidak memerlukan dana percepatan stunting dari provinsi bisa menunjukkan peningkatan yang signifikan tahun depan,” tegas Sri Wahyuni.
Dia menekankan pentingnya kerja sama antara Pemprov, Pemkab, dan Pemkot dalam mencapai target penurunan stunting hingga 14 persen pada 2025. Saat ini, angka stunting di Kaltim berada di 22,9 persen, turun hanya 1 persen dari tahun sebelumnya.
Sri Wahyuni juga mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh kabupaten/kota dalam menurunkan angka stunting. “Pertemuan ini sangat penting, dan kami berterima kasih kepada 10 kabupaten/kota yang telah menyelesaikan Rembuk Stunting di daerah masing-masing,” tambahnya.
Dia berharap akhir bulan ini, sebelum RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) dituntaskan, dapat mendengarkan apa yang telah dilakukan dan rencana ke depan dari setiap kabupaten/kota untuk percepatan penurunan stunting.
Dalam penutupan, Sri Wahyuni mengajak semua pihak untuk meningkatkan upaya dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan stunting di Kaltim. "Kami harus bekerja lebih keras dan cerdas untuk mencapai target yang telah ditetapkan," tutupnya. (*)
*) Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















