Pranala.co, BONTANG – Layanan kesehatan di Puskesmas Bontang Selatan 1 tengah menghadapi tantangan serius. Jumlah tenaga kesehatan yang terbatas membuat pelayanan kepada masyarakat berisiko terganggu.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, angkat bicara soal kondisi ini. Menurutnya, pemerintah sedang berupaya merumuskan jalan keluar melalui analisa beban kerja perangkat daerah.
“Pemerintah lagi menghitung analisa beban kerja. Kita tunggu itu, mudah-mudahan bulan ini bisa kelar. Kalau sudah selesai, kita tahu berapa idealnya jumlah pegawai dibandingkan beban kerja di masing-masing dinas,” jelas Agus, Selasa (2/9/2025).
Agus menegaskan, pemenuhan tenaga kesehatan dan guru menjadi prioritas. Sebab keduanya bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dari laporan yang diterimanya, Bontang saat ini kekurangan sekitar 70 guru. Kondisi ini dipicu banyaknya tenaga pendidik yang memasuki masa pensiun.
“Kalau data kesehatan saya belum update. Tapi insyaallah akan kita penuhi, karena pelayanannya langsung ke masyarakat. Apalagi kesehatan itu tidak boleh kurang,” ujarnya.
Agus menuturkan, ada mekanisme khusus untuk tenaga kesehatan dan pendidikan. Pemerintah daerah bisa mengajukan langsung kebutuhan pegawai ke pemerintah pusat. Cara ini diharapkan mempercepat pemenuhan SDM di dua sektor vital tersebut.
“Ini kan menyangkut pelayanan dasar. Jadi ada jalur khusus yang bisa kita manfaatkan,” kata Agus.
Kekurangan tenaga medis membuat beban kerja di puskesmas semakin berat. Hal ini bukan hanya menekan tenaga yang ada, tetapi juga berisiko memperlambat pelayanan ke masyarakat.
Situasi ini sekaligus mengingatkan pentingnya keberadaan tenaga kesehatan di garda terdepan. Tanpa SDM yang cukup, kualitas layanan publik sulit terjaga.
Melalui analisa beban kerja yang sedang digodok, Pemkot Bontang berharap segera menemukan formasi yang ideal.
Targetnya jelas: setiap puskesmas, termasuk Bontang Selatan 1, memiliki jumlah tenaga kesehatan yang memadai agar masyarakat mendapat pelayanan maksimal.
“Kesehatan dan pendidikan itu kebutuhan dasar. Tidak bisa ditawar-tawar,” tegas Agus. (FR)















