KEBIJAKAN besar tengah digodok di meja Istana. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintah tampaknya akan mengalami perombakan skema penerima manfaat dalam waktu dekat.
Anak-anak dari keluarga mampu alias orang kaya kini masuk dalam radar evaluasi. Pemerintah membuka wacana serius untuk menghentikan pasokan makanan gratis bagi kelompok ekonomi atas ini.
Langkah tersebut diambil demi memastikan anggaran negara bekerja lebih efektif. Fokus utama pemerintah kini bergeser penuh kepada mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Badan Gizi Nasional (BGN) langsung bergerak cepat merespons arahan ini. Kajian mendalam tengah dikebut untuk merumuskan ulang siapa saja yang berhak mendapatkan jatah makan bergizi tersebut.
Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn) Trenggono, membenarkan adanya wacana pembatasan tersebut. Pihaknya kini diberi tenggat waktu yang cukup ketat untuk menyelesaikan evaluasi.
"Ya itu masih kita lagi kaji lagi. Memang sudah ada wacana, tapi masih kita kaji lagi," ujar Trenggono saat dikonfirmasi mengenai kepastian skema baru ini.
Menurutnya, institusinya hanya memiliki waktu maksimal satu bulan untuk merampungkan formula terbaik. Prioritas penerima manfaat akan disesuaikan agar anggaran negara tidak salah alamat.
Arahan Langsung dari Presiden
Evaluasi ini bukan tanpa alasan. Isu efisiensi anggaran mencuat kuat dalam rapat terbatas Kabinet Merah Putih yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, Rabu (15/7/2026) lalu.
Dalam rapat tersebut, muncul usulan konkret untuk mencoret masyarakat yang berada di desil 8, 9, dan 10. Kategori ini merupakan kelompok masyarakat dengan kemampuan finansial mapan atau kalangan kaya.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional lainnya, Agustina Arumsari, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar program difokuskan ke desil ekonomi bawah.
"Yang tidak harus menerima lagi program MBG ya silakan tidak usah menerima lagi," tutur Agustina menirukan arah kebijakan efisiensi tersebut mengutip, Kompas.
Sebagai gantinya, pemerintah akan melipatgandakan pasokan ke wilayah-wilayah yang selama ini terabaikan. Daerah tertinggal dan wilayah dengan angka stunting tinggi menjadi target utama.
Program Makan Bergizi Gratis pada hakikatnya dibentuk untuk menaikkan status gizi masyarakat rentan. Oleh karena itu, membiarkan anak dari keluarga kaya menikmati fasilitas ini dinilai kurang tepat sasaran. (*)
















