VIDEO seekor induk orang utan berjalan pelan di jalan hauling tambang batu bara di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), sempat membuat publik tercekat pada September 2023 lalu. Tubuhnya sangat kurus. Tulang rusuk terlihat jelas. Rambut di sebagian tubuhnya nyaris habis.
Di pelukannya, seekor bayi orang utan terus menempel. Kecil. Diam. Seolah tak mau lepas dari induknya yang tampak kehabisan tenaga.
Dua tahun berlalu, kisah itu kembali ramai dibicarakan. Bukan hanya karena videonya kembali viral di media sosial, tetapi juga karena cerita di balik penyelamatan induk dan bayi orang utan tersebut membuka wajah lain dari kerusakan habitat satwa liar di Kalimantan.
Induk orang utan itu kini dikenal dengan nama Mauliyan. Bayinya diberi nama Ariandi.
Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), keduanya ditemukan di kawasan perbatasan konsesi tambang batu bara PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.
Wilayah itu merupakan bagian dari lanskap Karaitan, salah satu habitat penting orang utan di Kalimantan Timur. Namun kawasan tersebut kini terus terfragmentasi akibat aktivitas tambang, perkebunan sawit, hingga Hutan Tanaman Industri (HTI).
Hutan yang tersisa makin terpecah seperti pulau-pulau kecil. Jalur jelajah orangutan terputus. Sumber pakan menyusut. Satwa liar makin sulit bertahan hidup.
Manager pusat rehabilitasi orang utan Centre for Orangutan Protection (COP), Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan Mauliyan dalam kondisi sangat memprihatinkan.

“Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan,” kata Widi, Selasa (26/5/2026).
Tubuh Mauliyan saat itu mengalami malnutrisi berat. Kondisinya sangat lemah, dehidrasi, dan produksi ASI untuk anaknya sangat sedikit.
“Body score Mauliyan di bawah dua dari nilai maksimal lima. Tulangnya terlihat jelas dan kulitnya sangat kering. Kondisi itu tentu menyulitkannya merawat anaknya,” ujarnya.
Proses penyelamatan Mauliyan dan Ariandi bukan perkara mudah.
Tim rescue bahkan harus bermalam di bawah pohon tempat Mauliyan tidur agar proses evakuasi bisa dilakukan lebih aman. Kondisi tubuh Mauliyan yang terlalu kurus juga membuat pembiusan berjalan penuh risiko.
Ketegangan sempat terjadi ketika Ariandi terlepas dari pelukan induknya akibat kepanikan saat proses evakuasi berlangsung.
Bayi orang utan itu nyaris hilang di tengah kawasan hutan yang rusak. Beruntung, tim rescue berhasil mengamankannya sebelum akhirnya Mauliyan turun dari pohon dan dievakuasi.
Keduanya lalu dibawa ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) milik COP di Kabupaten Berau untuk menjalani perawatan intensif.
Namun perjuangan belum selesai. Paramedis COP, Miftachul Hanifah, mengungkapkan Mauliyan sempat berada dalam kondisi kritis beberapa hari setelah tiba di pusat rehabilitasi.
“Mauliyan mengalami dehidrasi, malnutrisi, dan kadar gula darah yang rendah hingga sempat pingsan. Tim medis langsung memberikan terapi cairan dan tambahan nutrisi,” katanya.

Selama rehabilitasi, Mauliyan mendapat perawatan khusus. Porsi makannya ditambah. Ia rutin mendapat suplemen, cairan elektrolit, hingga terapi pemulihan kulit.
Perlahan kondisinya membaik. Berat badannya mulai naik. Rambut yang sempat rontok tumbuh kembali. Ariandi pun tetap aktif bersama induknya.
Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, mengatakan perilaku liar Mauliyan dan Ariandi masih sangat baik sehingga keduanya tidak membutuhkan rehabilitasi perilaku.
“Perilakunya masih liar, jadi yang dilakukan adalah rehabilitasi untuk meningkatkan kesehatannya, terutama karena keduanya mengalami malnutrisi,” ujarnya.
Pada Maret 2024, Mauliyan dan Ariandi akhirnya dilepasliarkan di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















