BAGI warga Kampung Timur RT 01, Kelurahan Kanaan, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) hujan bukan lagi membawa kesejukan. Sebaliknya, setiap rintik yang jatuh dari langit kini menjadi lonceng peringatan akan datangnya ancaman: banjir lumpur dan bayang-bayang longsor.
Rabu (28/5/2026) sore, ketakutan itu kembali menjadi nyata. Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut membawa material tanah dari perbukitan, menerjang permukiman untuk ketiga kalinya sepanjang tahun ini.
Air berwarna cokelat pekat mengalir deras dari dataran tinggi, membawa lumpur yang perlahan menggerus halaman hingga mendekati fondasi rumah warga. Katinem (61), salah satu penghuni lama di sana, hanya bisa mengelus dada melihat kondisi tempat tinggalnya.
“Sekarang tiap hujan pasti was-was. Dulu enggak pernah begini,” keluh Katinem.
Ia mengenang masa-masa sebelum bukit di atas permukimannya dikeruk untuk aktivitas galian C. Dulu, meski hujan selebat apa pun, wilayah mereka tetap aman. Namun kini, setelah kontur tanah berubah dan vegetasi penahan hilang, air tak lagi terserap ke bumi.
Meski aktivitas pengerukan tanah di atas sana sudah dihentikan, luka pada lingkungan itu belum pulih. Tanah yang terbuka tanpa penahan menjadi sangat rapuh saat dihantam air hujan. Tanpa sistem drainase yang memadai, air mencari jalannya sendiri—dan jalur itu tepat mengarah ke pintu rumah warga.
Ketakutan serupa dirasakan Heriyatik. Baginya, malam hari saat hujan adalah waktu yang paling mencekam. Dalam gelap, ia dan keluarganya tidak pernah tahu kapan material tanah dari atas bisa runtuh seketika.
“Kalau malam itu yang paling takut. Kalau longsor dari atas, langsung ke rumah,” ungkapnya dengan raut cemas.
Pantauan di lapangan menunjukkan beberapa rumah mulai mengalami kerusakan serius. Fondasi yang terkikis dan lantai yang tertimbun lumpur menjadi bukti nyata bahwa potensi bencana besar tinggal menunggu waktu.
Menanti Kerja Nyata, Bukan Sekadar Peninjauan
Warga sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka sudah melapor ke RT, kelurahan, hingga pihak kepolisian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun sudah sempat datang melakukan peninjauan.
Namun, hingga detik ini, solusi teknis seperti pembangunan drainase atau pemasangan talud penahan tanah belum juga nampak hilalnya.
“Harapannya sederhana, dibikinkan parit dan diperbaiki yang di atas, supaya air tidak turun ke sini lagi,” harap Katinem.
Di tengah ancaman yang kian nyata, Katinem dan warga lainnya memilih bertahan. Bukan karena berani, tapi karena mereka tak punya pilihan lain. Rumah sederhana itu adalah satu-satunya harta dan sumber kehidupan mereka.
Kini, warga Kampung Timur hanya bisa menanti kepastian. Sebelum alam kehilangan kesabaran dan membawa bencana yang lebih besar, mereka sangat membutuhkan tangan pemerintah untuk hadir membawa solusi nyata. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami













