• Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami
Kamis, Juli 2, 2026
  • Login
Pranala.co
Advertisement
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
Pranala.co
No Result
View All Result
Home Suara

Senjata Yubo

Suriadi Said by Suriadi Said
31 Mei 2022 | 11:53
Reading Time: 4 mins read
0
Bagikan di FacebookBagikan di Twitter
Ditulis oleh: Dahlan Iskan

COBALAH sesekali kita pahami jalan pikiran orang yang tidak setuju dengan kita. Misalnya soal kepemilikan senjata itu.

“Kalau kepemilikan senjata dilarang, jumlah korban mati di tangan perampok akan lebih banyak,” ujar Ted Cruz, anggota DPR Partai Republik dari Texas.

PILIHAN REDAKSI

Kebun Agrinas Gelap Terang

Gelap Terang

12 Juni 2025 | 11:48
Koperasi Kredit Bank Catatan Dahlan Iskan

Koperasi Kredit Bank

10 Juni 2025 | 17:04

Dengan memiliki senjata maka orang yang jadi sasaran rampok bisa membela diri. Mereka juga tidak mudah merampok karena tahu kita pasti punya senjata untuk melawan.

Maka orang seperti Presiden Donald Trump tetap kukuh membela hak warga memiliki senjata.

“Sudah waktunya sekolah yang berubah. Guru harus dipersenjatai,” ujar Trump di acara Kongres Asosiasi Pemilik Senjata (NRA) di Texas dua hari lalu.

Trump juga memberikan jalan keluar lain: pintu-pintu sekolah harus lebih kuat. Juga jendelanya. Dan pagar yang mengelilingi sekolah harus disesuaikan. Harus lebih kukuh. Agar tidak terjadi lagi orang bersenjata bisa masuk kompleks sekolah.

“Juga harus pakai teknologi modern untuk mengamankan sekolah,” ujar Trump.

Awal mula kehebatan Amerika memang dari kehidupan individual penduduknya. Terutama yang kulit putih. Mereka bekerja keras. Sendiri. Bersama istri dan anak. Tidak ada yang membantu. Tidak juga pemerintah –mereka benci pemerintah yang hanya mencampuri urusan pribadi. Karena itu mereka juga benci pajak.

Mereka harus mati-matian melindungi hasil kerja kerasnya itu. Sendirian. Mereka tidak rela hasil kerja keras itu dirampok orang begitu saja. Baik sesama kulit putih atau oleh ras lain. Mereka jaga kekayaan mereka dengan taruhan nyawa. Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Atau polisi.

Mereka harus punya senjata. Suami punya satu pistol. Istri juga. Lalu suami punya lagi senjata laras panjang. Itulah peralatan standar rumah tangga mereka.

Ibarat punya piring dan sendok. Seperti itu juga di rumah teman-teman saya di sana. Ditunjukkanlah kepada saya di mana menyimpan pistol. Di mana letak senjata laras panjang. Saya pernah juga diminta mencobanya. Di halaman belakang.

Di Kongres NRA itu juga dinyatakan bahwa tidak satu pun anggota NRA yang pernah terlibat penembakan masal seperti yang baru terjadi di kota kecil Uvalde, bagian barat daya Texas.

“Kami bukan teroris. Tangan kami tidak berlumur darah. Kami taat hukum Amerika. Kami hanya ingin menjaga diri dan keluarga kami. Kami bangga jadi anggota NRA,” bunyi publikasi resmi di NRA.

Berarti masyarakat Amerika tetap terbelah. Presiden Joe Biden yang kemarin ke Uvalde diteriaki sebagian masyarakat di sana. “Lakukanlah sesuatu agar tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini,” teriak mereka seperti dilaporkan media di sana. “I will do,” balas Biden.

Apa maksud I will do kita tahu. Tapi bagaimana merealisasikannya itulah persoalan besarnya.

Sepuluh hari lalu Biden juga ”melayat” ke korban penembakan masal di Buffalo, bagian paling utara Amerika. Dan kini melayat serupa di bagian paling selatan negara itu. Bahkan di saat Biden ke Uvalde ini pun ada penembakan lainnya di Alabama.

Bisa jadi pekerjaan utama Biden nanti hanya melayat seperti itu. Dari utara ke selatan. Dari timur ke barat.

Tentu ada yang selalu bisa disalahkan. Dalam kasus Uvalde, yang diincar adalah Pedro ”Pete” Arredondo. Umurnya 50 tahun. Ia adalah kepala polisi sekolah distrik Uvalde.

Pete dianggap terlalu lambat mengambil keputusan. Kelak akan diungkap berapa dari 19 siswa yang tewas itu bisa selamat. Kalau saja Pete tidak lelet. Siapa tahu di antara 19 itu sebenarnya ada yang belum meninggal. Ia hanya terluka. Tapi terlalu lama tergeletak di lantai. Sekitar 1 jam. Sampai mati kehabisan darah.

Padahal doktrin keadaan krisis seperti itu tegas: lakukan ICE. Isolate, Catch, Evacuate. Pojokkan pelakunya. Ringkus pelakunya. Evakuasi korbannya.

Polisi sebenarnya sudah tiba di lokasi hanya beberapa menit dari peristiwa. Tapi yang didatangi pertama justru lokasi di depan rumah mayat. Di sebelah sekolah.

Dari situ memang ada pengaduan ke 911. Yakni ketika dua orang yang baru keluar dari rumah mayat ditembak Salvador Ramos remaja 18 tahun itu. Lokasi rumah mayat yang di sebelah sekolah menyebabkan polisi tidak mengira ada juga penembakan di sekolah. Yang justru lebih dahsyat. Dengan pelaku yang sama.

Polisi akhirnya juga ke sekolah itu. Tapi lebih banyak berkumpul di koridor. Tidak segera bertindak. Sampai ada orang tua siswa yang minta ke polisi agar memberikan senjata dan rompinya. Ia sendiri yang akan mendobrak masuk ke dalam kelas.

Di lain pihak, beberapa siswa yang tergeletak di lantai, sempat menelepon 911. Dengan ketakutan. Minta tolong. Agar dikirim segera polisi.

Siswa itu meraih HP milik guru mereka yang tergeletak tewas di sebelahnya. Itu berani mereka lakukan karena Ramos, Si pembawa senjata, lagi ke kelas sebelah. Mereka juga berani meraih darah dari lantai untuk diusapkan ke seluruh badan. Juga darah dari teman mereka yang sudah tewas. Lalu pura-pura sudah mati.

Komandan Pete berpikiran lain. Ia tetap menunggu kunci cadangan. Untuk bisa masuk ke kelas. Kunci itu masih diambil dari petugas pembawa kunci cadangan.

Lama sekali.

Ia tetap tidak mau mendobrak pintu atau jendela. Ia berpikir Ramos sedang berlindung dan siap menembak.

Pikiran Pete lainnya: toh sudah tidak ada suara penembakan lagi. Itu ia anggap keadaan tidak membahayakan siswa lagi. Sama sekali tidak terpikirkan siapa tahu sudah banyak yang tertembak dan masih bisa diselamatkan.

Itulah yang akan jadi pusat penyelidikan atas Komandan Pete. Padahal ia sudah mengikuti pelatihan intensif keadaan seperti itu. Ia sudah 25 tahun mengabdi di kepolisian.

Pete juga tahu aturan baru menghadapi peristiwa seperti itu. Langsung dobrak. Aturan baru itu dibuat sebagai koreksi cara lama. Terutama setelah terjadi penembakan serupa di pantai timur 10 tahun lalu. Agar tidak terjadi lagi.

Ternyata berulang.

Bukan main kemarahan masyarakat Uvalde. Dan seluruh Amerika.

Rupanya perhatian Pete kini sudah terbagi ke bidang lain. Ia lagi ingin jadi politisi. Ia ikut Pilkada di Uvalde. Untuk menjadi anggota dewan kota. Sudah terpilih. Ia bisa segera berhenti dari jabatan komandan polisi di situ. Dengan pangkat kapten.

Latar belakang Ramos sendiri kian terkuak. Ternyata ia cukup aktif di medsos. Yakni di Yubo. Yang 90 persen anggotanya anak berumur 25 tahun ke bawah. Menurut Yobo ada 79 juta anak muda di medsos tersebut. Termasuk Ramos.

Ramos juga sering live di Yubo. Anak berumur 18 tahun ini sering bicara mesum di situ. Live.

Juga sering mengancam lawan bicaranya. Khususnya wanita. Ia pernah mengancam si wanita untuk diperkosa dan dibunuh. CNN juga menulis Ramos pernah mengancam akan menembaki sekolah si wanita.

Dalam satu live Ramos pernah mengalihkan kamera HP ke senjata yang ia miliki. Sambil memberikan ancaman tersebut. Polisi akhirnya menemukan Ramos memiliki 60 magazine dengan peluru sebanyak 1.657 buah. Sebagian ditemukan di rumah Ramos.

Hannah, 18 tahun, juga anggota Yubo. Dia dari Ontario Kanada. Hannah pernah melaporkan tingkah Ramos seperti itu ke pengelola Yubo. Ramos sempat di-blacklist di Yubo. Tapi, kata Hannah, hanya sebentar. Lantas boleh aktif lagi

Ramos kini sudah tidak mikir apa-apa di kuburnya. Justru Pete yang sibuk menyelamatkan akhir karirnya. [Dahlan Iskan]

Tags: Dahlan IskanYubo
Previous Post

Pekerja Tambang dan Migas di Balikpapan Tetap Wajib Tes PCR dan Antigen

Next Post

Lahan Pertanian Minim, Bontang Mampu Raih Terbaik Kedua Ketahanan Pangan se-Kaltim

BACA JUGA

Cerita Luthfy Azka Nararya, Siswa Bontang Menembus Garis Takdir Paskibraka di Istana Negara

Cerita Luthfy Azka Nararya, Siswa Bontang Menembus Garis Takdir Paskibraka di Istana Negara

29 Juni 2026 | 09:11
OPINI: Hak Angket Kaltim di Persimpangan, Antara Transparansi Publik dan Kalkulasi Politik

OPINI: Hak Angket Kaltim di Persimpangan, Antara Transparansi Publik dan Kalkulasi Politik

17 Juni 2026 | 11:22
Jemaah Haji Bontang Saksikan Pergantian Kiswah Kakbah di Awal Tahun Baru Hijriah

Jemaah Haji Bontang Saksikan Pergantian Kiswah Kakbah di Awal Tahun Baru Hijriah

16 Juni 2026 | 15:21
Revita Pratiwi, Perempuan di Balik Distribusi Pupuk Nasional dan Prestasi MB Pupuk Kaltim

Revita Pratiwi, Perempuan di Balik Distribusi Pupuk Nasional dan Prestasi MB Pupuk Kaltim

14 Juni 2026 | 00:39
Lewat Gantungan Kunci, Pemuda Kutim jadi Duta Literasi Keuangan OJK Kaltim-Kaltara 2026

Lewat Gantungan Kunci, Pemuda Kutim jadi Duta Literasi Keuangan OJK Kaltim-Kaltara 2026

9 Juni 2026 | 17:01
Dari Pulau Kecil di Pangkep, Nur Aulia Tembus Forum Internasional Tiga Negara

Dari Pulau Kecil di Pangkep, Nur Aulia Tembus Forum Internasional Tiga Negara

18 Mei 2026 | 09:01
Next Post

Lahan Pertanian Minim, Bontang Mampu Raih Terbaik Kedua Ketahanan Pangan se-Kaltim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Gubernur Kaltim Rombak Kepala Dinas hingga Direktur RSUD, Berikut Daftar Lengkap 110 Pejabat yang Dilantik

Gubernur Kaltim Rombak Kepala Dinas hingga Direktur RSUD, Berikut Daftar Lengkap 110 Pejabat yang Dilantik

29 Juni 2026 | 13:23
Kementerian ESDM Bidik Tambang Ilegal di Kaltim, Pemodal jadi Sasaran Utama Polsek Tabang Gerebek Tambang Emas Ilegal di Kukar, 7 Pekerja Diamankan

Kementerian ESDM Bidik Tambang Ilegal di Kaltim, Pemodal jadi Sasaran Utama

26 Juni 2026 | 23:06
Siap-Siap Gelap-gelapan 3 Jam Sehari, Ini Biang Kerok Mati Lampu di Kaltim Mati Lampu Tenggarong Kukar Hari Ini: Cek Daftar Wilayah Terdampak di Sini!

Siap-Siap Gelap-gelapan 3 Jam Sehari, Ini Biang Kerok Mati Lampu di Kaltim

29 Juni 2026 | 19:19
Dikendalikan Buronan, Polda Kaltim Gulung Sindikat Sabu di Bontang

Dikendalikan Buronan, Polda Kaltim Gulung Sindikat Sabu di Bontang

28 Juni 2026 | 13:41
Sempat Molor 2 Bulan, 12 Pejabat Pemkot Bontang Resmi Dilantik Hari Ini

Sempat Molor 2 Bulan, 12 Pejabat Pemkot Bontang Resmi Dilantik Hari Ini

1 Juli 2026 | 12:23

Terbaru

Inflasi Kaltim Melonjak 3,20 Persen, Samarinda Paling Mahal

Inflasi Kaltim Melonjak 3,20 Persen, Samarinda Paling Mahal

2 Juli 2026 | 23:24
Hitung Mundur Verifikasi, Sekda Kaltim Desak Kesiapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat

Hitung Mundur Verifikasi, Sekda Kaltim Desak Kesiapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat

2 Juli 2026 | 23:09
Curhat Wali Kota Bontang di APEKSI: Daerah Deg-degan Anggaran Pusat Dipangkas

Curhat Wali Kota Bontang di APEKSI: Daerah Deg-degan Anggaran Pusat Dipangkas

2 Juli 2026 | 22:07
Wabup Kutim Mahyunadi Desak Revisi UU Pemda: Daerah Butuh Kewenangan Kelola PAD

Wabup Kutim Mahyunadi Desak Revisi UU Pemda: Daerah Butuh Kewenangan Kelola PAD

2 Juli 2026 | 21:42
Pranala.co

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved

Jalan Seruling 4 RT 21 Nomor 74E Kel Bontang Baru, Kota Bontang, Kalimantan Timur, Telepon : 0811-5423-245 [Marketing/Redaksi] Email: [email protected]

  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved