LANGKAH tegap pasukan pengibar bendera di halaman Istana Negara selalu berhasil memukau jutaan pasang mata. Namun, di balik seragam putih yang gagah dan sorot kamera yang megah, ada keringat, air mata, dan mimpi yang dirajut dari ruang-ruang kelas di daerah.
Bagi Gus Luthfy Azka Nararya—remaja asal Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim)—seragam putih itu bukan sekadar pakaian dinas. Pakaian tersebut merupakan wujud nyata dari sebuah janji yang ia bisikkan pada dirinya sendiri sejak masih duduk di bangku SMP.
“Dari awal saya sudah optimistis. Saya harus sampai tingkat nasional, jangan hanya berhenti di level kota,” ujar pemuda yang akrab disapa Lutfi ini dengan nada bicara yang mantap.
Mimpi besar tidak tumbuh di ruang hampa. Bagi Lutfi, percikan itu datang saat ia melihat kakak tingkat di sekolahnya berhasil menembus Paskibraka pusat pada 2022. Sejak momen itu, ia mulai mencari tahu, bertanya ke sana kemari, dan melatih fisiknya secara diam-diam.
Menariknya, darah pengibar bendera ternyata juga mengalir dari sang ibu, Nur Hidayah Jalil, yang merupakan mantan Paskibraka Kota Bontang 2008. Didukung penuh oleh sang ayah, Ahmad Fauzi, Lutfi dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai disiplin tinggi.
Namun, menjadi Paskibraka nasional jelas bukan urusan mudah yang bisa instan. Level pusat menuntut kesiapan yang nyaris tanpa cela. Siswa SMA Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP) Bontang ini harus memulainya dari hal yang paling fundamental, yaitu kesehatan tubuhnya sendiri.
“Semua kondisi harus bagus. Mulai dari organ dalam sampai postur luar tubuh. Itu yang paling utama,” kenang Lutfi saat menceritakan masa-masa awal persiapannya kepada Pranala.co.
Perjalanan Lutfi menuju Jakarta adalah babak penyisihan yang melelahkan. Di tingkat Kota Bontang, ia harus bersaing ketat dengan sekitar 160 peserta. Dari ratusan anak muda berbakat itu, hanya tiga pasang yang terpilih untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat provinsi. Lutfi menjadi salah satunya.
Masuk ke tingkat Kaltim, tensi kompetisi semakin memanas. Ia harus berhadapan dengan puluhan perwakilan terbaik dari berbagai kabupaten dan kota. Melalui konsistensi, Lutfi kembali terpilih untuk mewakili tanah kelahirannya di panggung nasional.
Ketika menginjakkan kaki di tempat seleksi nasional, ritme hidupnya langsung berubah total. Selama lima hari berturut-turut, seluruh peserta dihantam ujian fisik dan mental yang nyaris tanpa jeda.
Hari pertama langsung dibuka dengan pemeriksaan medis komprehensif. Tim dokter memeriksa detail setiap jengkal tubuh peserta, mulai dari mata, THT, hingga presisi postur saat berdiri tegak.
Menghipnotis Juri dengan Tari Mandau dan Alat Musik Sape
Di tengah ketatnya persaingan yang kaku, Lutfi berhasil mencuri perhatian saat sesi uji minat dan bakat. Ia memilih jalan yang tidak biasa: membawa identitas leluhurnya ke hadapan para penguji nasional.
Siswa asal Kaltim ini menampilkan tari Mandau sembari membawa alat musik tradisional sape. Hebatnya, persiapan untuk penampilan budaya ini hanya memakan waktu sekitar tiga minggu saja.
“Waktu itu saya belum sepenuhnya mahir bermain sape. Tapi bagi saya yang penting percaya diri dan punya niat kuat untuk mengenalkan budaya daerah,” katanya sambil tersenyum.
Keberanian Lutfi terbukti menjadi poin pembeda yang sangat berharga di mata tim penilai.

Detik-Detik Menakutkan di Ruang Psikotes
Meski unggul di sesi budaya, Lutfi tidak memungkiri bahwa ada satu tahapan yang membuatnya sempat merasa frustrasi. Tahapan tersebut adalah ujian psikotes.
Berbeda dengan seleksi daerah yang memberikan kelonggaran waktu, psikotes tingkat nasional berjalan dengan kecepatan yang memburu waktu. Setiap peserta dipaksa berpikir di bawah tekanan tinggi.
“Satu soal bisa cuma diberi waktu 30 detik sampai dua menit. Tahapannya banyak sekali,” ungkap Lutfi.
Ujian ini dirancang khusus untuk mengukur kecepatan berpikir dan ketepatan mengambil keputusan. Karakteristik ini sangat krusial bagi seorang Paskibraka yang harus bekerja dalam tim dengan dinamika yang tinggi.
Menjelang pengumuman akhir, mental Lutfi sempat goyah. Melihat kemampuan para kompetitor dari 38 provinsi di Indonesia, rasa pesimis sempat menyelinap di pikirannya.
Namun, takdir berkata lain. Ketika namanya diumumkan lolos sebagai Paskibraka nasional, seluruh rasa lelahnya menguap seketika.
Rasa haru yang mendalam langsung menyelimuti hati kedua orang tuanya di Bontang. Sang ayah, Ahmad Fauzi, teringat kembali bagaimana anaknya harus membagi waktu secara ketat antara latihan fisik yang berat dan turnamen basket sekolah.
“Dia bahkan sempat ikut final turnamen basket, lalu besok paginya langsung berangkat seleksi provinsi. Kemampuan dia membagi waktu yang membuat saya sangat bangga,” tutur Fauzi emosional.
Kini, Lutfi tengah bersiap menjalani pemusatan latihan intensif selama lebih dari 40 hari di Jakarta. Di bawah gemblengan para pelatih, ia terus menempa fisik dan mentalnya demi satu tujuan mulia. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















