SUARA mesin kapal tongkang kini lebih sering terdengar di perairan Desa Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim). Di saat yang sama, nelayan setempat mengaku hasil tangkapan mereka terus menurun dalam setahun terakhir.
Pulau Miang selama ini dikenal sebagai salah satu spot memancing dan penghasil ikan laut di pesisir Kutai Timur. Namun para nelayan menyebut kondisi itu perlahan berubah sejak aktivitas bongkar muat batu bara semakin dekat dengan kawasan tangkapan ikan mereka.
Salah satu nelayan, Jumri, mengatakan perubahan paling terasa terjadi tahun ini. Jika sebelumnya nelayan bisa membawa pulang puluhan kilogram ikan dalam sekali melaut, kini mendapatkan lebih dari lima kilogram saja disebut sulit.
“Dulu hasil kami setelah mancing banyak sekali, sekarang kalau cuman sehari dapat satu ikan aja susah betul,” kata Jumri.
Menurut dia, kapal-kapal pengangkut batu bara yang berlabuh di sekitar perairan Pulau Miang membuat ikan menjauh dari lokasi tangkapan nelayan. Akibatnya, mereka harus melaut lebih jauh untuk mencari titik ikan.
Padahal sebelumnya nelayan cukup memancing sekitar satu kilometer dari desa. Kini jarak tempuh bertambah, sementara hasil tangkapan belum tentu meningkat.
“Kapal-kapal itu yang membuat kami harus melaut lebih jauh. Ini membuat pendapatan dan pengeluaran kami tidak besar, bahkan bisa rugi,” ujarnya.
Kondisi tersebut mulai berdampak pada penghasilan warga pesisir yang mayoritas menggantungkan hidup dari laut. Sejumlah nelayan bahkan disebut mulai mengurangi frekuensi melaut karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Di tengah meningkatnya aktivitas industri batu bara di kawasan pesisir Kutai Timur, warga Pulau Miang berharap ruang tangkap nelayan tradisional tetap mendapat perhatian agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak semakin terdesak. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














