Nasib Pedagang Takjil saat COVID-19; Terpaksa Berjualan demi ‘Isi Perut’

Deretan pedagang takjil si sepanjang Jalan A Yani, Kota Bontang.

PARA penjaja takjil atau makanan pembuka puasa tampak menata beragam kolak, kue manis, dan aneka es sejak sore di wilayah Jalan A Yani, Kota Bontang, Jumat (1/5) petang. Tak sepi, tapi juga tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Salah satunya adalah Masnah, pedagang yang tetap berjualan meski Kota Bontang berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) sejak 23 Maret lalu. Ini imbas dari wabah Corona.

Perempuan tiga putra itu mengaku terpaksa tetap melakoni kegiatan tersebut. Sebab satu-satunya sumber penghasilan yang bisa didapatkan hanya dengan berdagang. “Sempat tutup 3 hari, tapi enggak bisa tutup terus. Perlu makan dan kasih uang untuk keluarga,” keluhnya kepada Pranala.co.

Dia sebenarnya cemas setiap membuka lapaknya untuk menjajakan dagangan. Sebab, dirinya ragu pihak aparat seperti Satpol PP akan memperbolehkan ia dan rekan-rekannya berjualan saat kondisi kurang baik seperti ini.

BACA JUGA:
Beasiswa Kaltim Mulai Dibuka 15 Mei

Namun, ia tak terlalu ambil pusing. Sebab, selain kebutuhan ekonomi, menurutnya sampai saat ini masih belum ada larangan yang dikeluarkan untuk melarang aktivitas jual beli.

“Baik dari pemerintah maupun aparat. Di daerah ini juga belum ada penertiban selama berjualan,” jelasnya.

Upaya maksimalnya sebagai pedagang hanya bisa memastikan dirinya, para penjual lain, serta pembeli melakukan protokol kesehatan yang disarankan pemerintah. Dia memakai masker dan menjaga jarak.

Kondisi yang dialami Masnah, jamak terjadi. Serupa Dimas, pedagang takjil musiman juga mengaku terpaksa memberanikan diri berjualan hanya untuk menyambung hidup. Apalagi, upah sebagai buruh bangunan harian benar-benar terhenti. Tak ada proyek, tak ada pemasukan.

“Ini ada tabungan dikit, saya putar buat modal jualan es kelapa serut Mas. Kalau enggak gini, bisa mati kelaparan keluarga saya,” lirihnya.

Dimas juga tidak menampik mengenai penurunan pendapatan dialami para pedagang kaki lima pada Ramadan kali ini, termasuk dia. Menurutnya keadaan tersebut sudah berlangsung semenjak penetapan Covid-19 sebagai kondisi darurat bencana non-alam Maret silam.

“Pengaruhnya bukan hanya soal omzet saja, tapi banyak yang akhirnya tidak bisa berjualan. Penurunannya 70 sampai 90 persen dari pendapatan normal,” tuturnya.

Meski begitu, dia pun masih bisa tertolong adanya bantuan Rp500 ribu dari Pemkot Bontang. Rp300 ribu berbentuk sembako dan sisanya uang tunai. “Alhamdulillah dapat kok Mas. Lumayan bisa dipakai modal juga uangnya,” ujar warga ber-KTP Bontang ini.

Sementara itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyadari kondisi ini membuat ekonomi kian runtuh. Tapi, ada lebih utama, yakni kesehatan bersama. Wali Kota Neni tidak melarang para pedagang untuk berjualan takjil selama Ramadan. Hanya saja lokasi yang diperbolehkan untuk berjualan takjil terbatas. Jarak lapak pun diatur, 2 meter. Tidak bergerombol seperti bazar Ramadhan yang biasa ada Ramadan sebelumnya.

“Sektor makanan masih diizinkan beraktivitas. Tetapi harus menaati protokol kesehatan penanganan Covid-19,” Neni belum lama ini.

BACA JUGA:
Pansus COVID-19 Tak Dibentuk, Ini Alasan Ketua DPRD Bontang

Protokol kesehatan tersebut mencakup: wajib menggunakan masker baik bagi penjual dan pembeli, memperhatikan jarak aman dengan physical distancing, serta penjualan hanya untuk dibawa pulang.

“Semoga wabah ini segera berlalu dan saya harap warga Bontang bisa memanfaatkan Ramadan ini untuk bersama-sama berdoa agar musibah ini berlalu,” pintanya. (*)

More Stories
Kondisi Covid-19 Kaltim di Mata Menko Luhut