JALUR urat nadi pelayaran perairan Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diwarnai aksi mencekam. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, Satpolairud Polresta Samarinda membongkar dua kasus besar premanisme Sungai Mahakam yang berlokasi di kawasan perairan Harapan Baru.
Kawasan ini pun kini resmi dipetakan sebagai titik paling rawan kejahatan. Modusnya serupa namun fatal: para pelaku mendekati kapal logistik, meminta solar secara paksa, dan tak segan menganiaya kru kapal jika keinginan mereka ditolak.
Kasat Polairud Polresta Samarinda, Kompol Agus Setyawan, menegaskan bahwa dua kasus yang diungkap ini menjadi alarm keras bahwa pengawasan perairan harus diperketat.
“Dua perkara ini berkaitan langsung dengan kejahatan jalanan di alur Sungai Mahakam,” ujar Agus saat konferensi pers, Rabu (15/7/2026).
Tragedi pertama menimpa seorang anak buah kapal (ABK) TB Mahakam Indah pada akhir Juni lalu. Saat kapal sedang melaju tenang menuju pangkalan Sengkotek, sebuah perahu ces bermesin tempel warna cokelat tiba-tiba memotong jalur kapal.
Lima orang pria tak dikenal melompat ke atas dek kapal. Tanpa basa-basi, mereka meminta jatah solar kapal secara paksa.
Karena bahan bakar sudah dihitung pas-pasan untuk pelayaran, sang ABK dengan sopan menolak permintaan tersebut. Namun, penolakan itu justru memicu amarah para pelaku.
Korban langsung dikeroyok di atas kapal hingga mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Kejadian ini sempat viral dan memicu kemarahan publik setelah korban bersuara di media sosial.
Bergerak cepat setelah menerima laporan dari grup WhatsApp warga dan media sosial, polisi langsung memburu para pelaku. Empat tersangka berinisial JW, B, A, dan M berhasil diringkus beserta perahu ces mereka. Satu pelaku lainnya kini buron.
Para pelaku kini dijerat dengan Pasal 262 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait pengeroyokan bersama dengan ancaman hukuman berat.
Belum reda kasus pengeroyokan, publik kembali dihebohkan oleh video viral yang merekam aksi penyedotan solar ilegal di tengah sungai. Sebuah perahu ces biru merapat ke lambung kapal tugboat yang sedang berjalan, lalu para pelaku menodongkan selang ke dek atas untuk menguras BBM kapal.
Meskipun saat perahu ces biru tersebut disita posisinya kosong, polisi berhasil melacak jaringan pertemanan mereka. Petugas mengamankan seorang pria berinisial R alias K di kawasan Harapan Baru.
Saat digeledah, R kedapatan menyembunyikan sebilah badik tajam sepanjang 10 sentimeter di balik pakaiannya. Senjata tajam itu diduga kuat digunakan untuk mengintimidasi para ABK yang berani melawan.
“Untuk kasus kedua, pihak perusahaan kapal memilih tetap melanjutkan pelayaran karena terikat kontrak kerja dan menghindari kerugian waktu pengapalan (demurrage). Namun, investigasi kami tidak berhenti di sini,” tegas Agus.
Polisi mendeteksi bahwa meski kedua kelompok preman ini berbeda tim, mereka saling mengenal satu sama lain. Beberapa di antaranya bahkan diduga merupakan residivis kambuhan kasus kekerasan dan narkoba.
Guna menjamin keamanan logistik di Sungai Mahakam, Satpolairud Polresta Samarinda kini menggandeng KP3 untuk menggelar patroli berskala besar secara rutin di titik-titik rawan perairan. (*)















