PEMERINTAH Kabupaten Kutai Timur alias Pemkab Kutim tak ingin kehilangan momentum penting yang akan menentukan masa depan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Menjelang kedatangan tim penilai UNESCO pada Juli 2026, seluruh pihak diminta menjaga kawasan tersebut agar tetap utuh dan lestari.
Pengakuan sebagai geopark dunia bukan sekadar prestise. Status itu diyakini akan membuka peluang besar bagi perlindungan lingkungan, pengembangan pariwisata berkelanjutan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat merupakan aset berharga yang menyimpan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang tidak ternilai.
“Saya minta kepada seluruh pihak agar tidak mengganggu keutuhan dan kelestarian kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang sedang kita usahakan mendapat pengakuan nasional bahkan pengakuan global,” kata Ardiansyah di Sangatta, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah menerapkan berbagai regulasi dalam penerbitan perizinan dengan mempertimbangkan keaslian, keutuhan, serta kelestarian kawasan hutan yang menjadi bagian utama bentang alam geopark.
Kedatangan tim penilai UNESCO dipandang sebagai kesempatan emas memperkenalkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat ke panggung internasional.
Kawasan seluas sekira 1,8 juta hektare yang membentang di wilayah Kutai Timur dan Berau itu dikenal sebagai salah satu bentang karst terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.
Tak hanya menawarkan lanskap karst yang megah, kawasan ini juga memiliki gua-gua alami, sungai bawah tanah, perbukitan kapur, hingga puluhan situs geologi dan ekologi yang masih terjaga.
Yang membuatnya semakin istimewa, sejumlah gua prasejarah di kawasan tersebut menyimpan lukisan cap tangan serta gambar hewan yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun. Jejak itu menjadi bukti penting awal peradaban manusia yang bernilai tinggi bagi dunia ilmu pengetahuan.
Ardiansyah menegaskan pembangunan daerah tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pemkab Kutim berkomitmen menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dengan keberlangsungan ekosistem agar kekayaan alam tersebut tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Timur, Januar Bayu Irawan, mengatakan seluruh pemangku kepentingan telah bergerak bersama mempersiapkan proses penilaian.
Kolaborasi dilakukan mulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan, desa hingga perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan geopark.
Menurut Bayu, status UNESCO Global Geopark nantinya akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar pengakuan internasional.
Pengakuan tersebut akan memperkuat perlindungan ekologi, mendorong pembangunan infrastruktur pendukung, memperluas kesempatan penelitian dan pendidikan, serta mempercepat pengembangan pariwisata berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal.
“Yang paling penting, apabila Geopark Sangkulirang-Mangkalihat ditetapkan sebagai warisan dunia akan ada jaminan keberlangsungan untuk menjaga ekologi dan ekosistem di wilayah tersebut,” ujarnya.
Meski sektor pariwisata diproyeksikan berkembang pesat, Bayu mengingatkan keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi seluruh masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan.
Dia berharap pengakuan UNESCO nantinya tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat, pembangunan yang berkelanjutan, dan terjaganya warisan alam Sangkulirang-Mangkalihat bagi generasi yang akan datang. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















