UJIAN berat langsung menyambut Huzaifah Makmur Hidayah di kursi kepemimpinan barunya. Baru saja menerima tongkat estafet sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kondisi sel yang sudah sesak akut.
Lapas Bontang kini mengalami krisis overkapasitas yang mengerikan. Bayangkan saja, bangunan yang idealnya hanya menampung 376 orang, kini dipaksa berjejal oleh sekitar 1.765 warga binaan. Angka ini membengkak hingga lebih dari empat kali lipat dari kapasitas normal.
Merespons kondisi yang kian mengkhawatirkan ini, Lapas Bontang langsung bergerak cepat melakukan cuci gudang massal. Pada Jumat (26/6/2026), sebanyak 25 orang narapidana terpaksa dievakuasi dan dipindahkan menuju Lapas Kelas IIA Balikpapan.
Pemindahan puluhan napi ke Balikpapan ini bukan gelombang pertama. Langkah darurat demi mengurai kepadatan hunian ini sudah berjalan secara simultan dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, 15 Juni 2026, Lapas Bontang juga sempat menerima limpahan warga binaan dari daerah lain, yakni 7 orang dari Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda dan 12 orang dari Lapas Kelas IIA Samarinda. Namun, dengan angka hunian yang terus meroket, redistribusi keluar daerah menjadi jalan keluar yang paling realistis saat ini.
Proses pemindahan ini pun dilakukan dengan pengawalan ketat dan pemeriksaan administrasi yang berlapis. Mulai dari verifikasi kelengkapan dokumen, cek kesehatan, hingga pengamanan ketat sesuai standar operasional prosedur (SOP) pemasyarakatan.
Pihak Lapas menegaskan, pemindahan warga binaan ini murni mempertimbangkan aspek keamanan, kebutuhan pembinaan, serta pengelolaan hunian agar proses pemasyarakatan tetap berjalan optimal di tengah keterbatasan ruang yang ada.
Meski kondisi fisik lapas sudah tidak ideal, Huzaifah Makmur Hidayah memastikan hak pelayanan dan pembinaan bagi warga binaan tidak akan disunat. Ia berkomitmen agar para narapidana tetap mendapatkan bekal positif sebelum kembali ke masyarakat.
Sebagai wilayah yang dikenal dengan basis industrinya, Hidayah melihat ada peluang besar untuk menyulap tantangan ini menjadi potensi. Ke depan, program pelatihan keterampilan bagi warga binaan di Lapas Bontang akan dirombak total agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan sektor industri lokal.
“Pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani pidana, tetapi bagaimana mereka siap kembali berperan di tengah masyarakat,” tegas dia mengutip cuitankaltim.
Selain urusan perut dan keterampilan napi, Hidayah juga memasang barikade tinggi di sektor keamanan. Ia berjanji tidak akan memberikan ruang sekecil apa pun bagi pelanggaran di dalam lapas.
Pengawasan terhadap peredaran gelap narkotika, penyelundupan telepon genggam, hingga barang terlarang lainnya akan diperketat melalui razia rutin maupun dadakan. Modus penyelundupan yang kian cerdik, diakuinya, menuntut jajaran petugas lapas untuk melipatgandakan kewaspadaan mereka. [RIL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















