USIA 17 tahun, Muhammad Shafa Pandya sudah berdiri di ambang panggung Asia. Remaja asal Sangatta, Kutai Timur (Kutim, Kalimantan Timur (Kaltim) itu diproyeksikan memperkuat Indonesia dalam ajang Asian Volleyball Championship (AVC) di Pontianak—sebuah lompatan jauh dari lapangan-lapangan latihan yang selama ini ia jalani.
Perjalanan Shafa menuju titik ini tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dalam keluarga atlet. Ayah dan ibunya, Roni Agung Riyadi dan Deasy Saptarina Dewi, adalah mantan pemain voli yang pertama kali mengenalkannya pada olahraga tersebut sejak kecil.
Namun, bakat saja tidak cukup. Shafa baru benar-benar menekuni voli secara serius saat duduk di bangku akhir sekolah menengah pertama (SMP). Dari sana, jalurnya mulai terbentuk—bermain di level daerah bersama Kutai Timur dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), hingga akhirnya menembus kompetisi profesional Proliga 2026.
Bersama Garuda Jaya, Shafa mencuri perhatian di musim debutnya. Timnya finis di peringkat keempat, capaian yang memberi pengalaman kompetitif di level tertinggi nasional. Dari situ, pintu menuju tim nasional junior mulai terbuka.
Rutinitasnya pun berubah drastis. Hampir tak ada hari tanpa latihan. Tiga hari dalam sepekan dihabiskan di pusat kebugaran untuk membangun kekuatan fisik, sementara hari lainnya diisi latihan teknik dan pertandingan. Di titik ini, tantangan bukan lagi sekadar lawan di lapangan.
“Tantangan terbesar itu rasa bosan karena latihan setiap hari,” kata Shafa, Selasa (29/4/2026). Ia mengaku mengatasinya dengan cara sederhana—berjalan-jalan atau mencari suasana baru di sela jadwal padat.
Pilihan untuk serius di voli juga membawa konsekuensi pada pendidikan. Saat bergabung dengan klub Umika Bekasi, Shafa harus menjalani sekolah secara daring. Situasi ini menuntut disiplin ganda: menjaga performa di lapangan sekaligus tidak tertinggal pelajaran.
Di rumah, kontrol tetap ketat. Ibunya memastikan pola makan, waktu istirahat, hingga penggunaan gawai tetap terjaga. Bagi keluarga, menjaga ritme latihan sama pentingnya dengan menjaga fokus mental.
Kini, langkah Shafa mengarah ke AVC di Pontianak. Bagi banyak atlet muda, turnamen ini adalah gerbang awal menuju level yang lebih tinggi. Shafa menyadari betul bahwa panggung Asia bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang menguji sejauh mana ia bisa bertahan dan berkembang.
“Harapannya bisa tampil maksimal dan dapat pengalaman yang bagus,” ujar dia menukil laman resmi Pemkab Kutim. [RE/DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















