Pranala.co, SAMARINDA – Kolam retensi seluas 2,6 hektare di kawasan Sempaja yang baru rampung dibangun terancam tidak efektif mengatasi banjir. Penyebabnya, sistem drainase belum terkoneksi sempurna ke Gang Ahim, titik lemah yang selama ini menjadi bottleneck aliran air. Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda Deni Hakim menegaskan, pembangunan infrastruktur fisik tak ada artinya tanpa integrasi sistem yang matang.
Saat meninjau lokasi dekat Perumahan Sempaja Lestari Indah, Deni menjelaskan meskipun pembangunan fisik kolam retensi dan pintu air telah selesai, masih ada pekerjaan rumah berupa penyambungan saluran menuju Gang Ahim. Wilayah ini menjadi titik lemah karena adanya penyempitan saluran yang mengakibatkan air meluap kembali ke jalanan.
“Kami melihat pembangunan kolam retensi di Sempaja sudah selesai, namun tantangan berikutnya adalah memastikan air bisa mengalir lancar menuju Gang Ahim yang selama ini menjadi titik penyempitan atau bottleneck,” ujar Deni Hakim.
Dia melanjutkan, jika daya tampung drainase di titik pertemuan aliran dari PM Noor, AWS, dan Wahid Hasyim ini tidak segera dibenahi, maka air akan terus meluap dan menyebabkan genangan meski sudah ada kolam penampungan.
Guna mengatasi kendala konektivitas, diperlukan tambahan kegiatan penyambungan drainase dengan estimasi anggaran sekitar Rp6 miliar. Komisi III telah meminta cetak biru (blueprint) lengkap dari Bidang Sumber Daya Air (SDA).
“Masalah lahan sudah clear, sekarang fokus kita adalah pada penyambungan drainase yang memerlukan anggaran sekitar Rp6 miliar. Kami sudah meminta data teknis dan blueprint dari bidang SDA agar seluruh sistem benar-benar terkoneksi, karena tanpa konektivitas yang kuat antara kolam dan saluran pembuangan, upaya menanggulangi banjir ini tidak akan memberikan hasil maksimal bagi masyarakat,” tegas Deni.
Deni menekankan, kolam retensi dirancang bukan hanya untuk menampung air, melainkan mengatur ritme aliran agar tidak membebani saluran drainase secara bersamaan. Kolam retensi ini dirancang bukan hanya untuk menampung air, tetapi untuk mengatur ritme aliran agar berjalan semestinya ke hilir.
:Kami sangat meminta agar titik-titik hambatan segera diselesaikan, karena jangan sampai kolam retensi yang sudah megah ini justru tidak terkoneksi dengan sistem drainase yang ada di sekitarnya, yang mana hal itu akan membuat fungsinya tidak efektif,” tambahnya.
Deni juga menyoroti semakin minimnya area resapan air di Samarinda akibat masifnya pembangunan di wilayah tangkapan air. Ia memperingatkan agar pemerintah lebih tegas dalam pemberian izin bangunan ke depan.
Kata dia, kondisi Samarinda saat ini memang memprihatinkan karena minimnya resapan air akibat banyaknya bangunan di wilayah tangkapan. Ke depan, Pemkot harus memastikan tidak boleh ada lagi bangunan yang berdiri di atas area resapan, karena hal itu secara langsung mengurangi daya tampung tanah dan menjadi pemicu utama banjir yang sulit surut.
Selain Sempaja, perhatian Komisi III juga tertuju pada pembangunan tanggul oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) di kawasan Bengkuring. Deni mencatat masih ada sisa pembangunan tanggul sekitar 2 kilometer yang belum tersambung, sehingga air dari Sungai Karang Mumus masih berpotensi melimpas ke pemukiman warga.
“Kami juga menaruh perhatian pada sisa pembangunan tanggul sepanjang 2 kilometer di Bengkuring yang belum tersambung sepenuhnya. Selama tanggul ini belum tuntas, warga akan terus dihantui luapan Sungai Karang Mumus, sehingga kami akan segera berkomunikasi dengan pihak terkait agar pembangunan tanggul ini bisa segera direalisasikan secara utuh,” urai Deni.
Menutup tinjauan, Deni memberikan catatan khusus pada kolam retensi seluas 5 hektare milik Pemerintah Kota yang telah selesai dibangun. Ia mengingatkan agar elevasi tanggul diperhatikan cermat dan akses di sekitar kolam tetap bersih agar infrastruktur bekerja optimal saat curah hujan tinggi.
“Intinya, seluruh pembangunan drainase dan kolam retensi di Samarinda harus tepat sasaran dan saling terhubung satu sama lain. Kami memberikan catatan pada kolam retensi 5 hektare milik Pemkot agar ketinggian tanggulnya benar-benar dijaga lebih tinggi dari permukaan air, serta penataan tanah di sekitarnya diperhatikan agar tidak menciptakan genangan baru yang justru merugikan warga sekitar,” tutup Deni Hakim. (TIA)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















