Kaltim Hasilkan 2,5 Ton Limbah Penanganan Covid-19

Ilustrasi tumpukan limbah medis. (Net)

BELUM genap sebulan penanganan pasien akibat Virus Corona Covid-19 di Kalimantan Timur, sudah menghasilkan limbah cukup banyak. Tercatat hingga saat ini limbah medis dari penanganan pasien mencapai 2,5 ton.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim Encek Ahmad Rafidin Rizal menjelaskan, limbah medis dari penanganan Covid-19 merupakan limbah infeksius dan dikelola sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3). Tentu saja, pengelolaannya harus sesuai standar penanganan limbah yang sudah diatur.

“Kami melakukan langkah cepat untuk memastikan seluruh limbah B3 ditangani sesua prosedur operasional standar,” kata Encek, baru-baru ini.

Limbah medis penanganan Covid-19 itu antara lain, masker, sarung tangan dan baju pelindung diri, kain kasa, tisu bekas, dan wadah bekas makan dan minum. Selain itu ada juga alat dan jarum suntik, alat infus, sarung tangan, serta peralatan dari laboratorium.

Encek menjelaskan, pengelolaan limbah harus dilakukan sesuai Peraturan Pemerintah nomor 101 tahun 2014 tentang pengelolaan limbah B3, serta Peraturan Menteri LHK Nomor 56 tahun 2015 tentang persyaratan teknis pengelolaan limbah dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Pengelolaan limbah di masa pandemic Covid-19 ini juga diperkuat dengan Surat Edaran Menteri LHK tertanggal 24 Maret 2020 tentang pengelolaan limbah infeksius dan sampah rumah tangga dari penanganan Covid-19.

Di Kaltim, tambahnya, saat ini ada Sembilan rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Semua rumah sakit itu telah menangani pasien Covid 19 mulai dari Orang Dengan Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

“Limbah-limbah itu berasal dari penggunaan ODP, PDP, dan pasien terjangkit Covid-19,” ujarnya.

Dari Sembilan rumah sakit rujukan itu, sebagian besar sudah memiliki fasilitas pengelolaan limbah B3. Sehingga proses pengelolaan limbah bisa dilakukan secara mandiri sesuai prosedur yang telah diatur.

Sedangkan untuk rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas pengelolaan limbah namun memiliki tempat penyimpanan sementara limbah B3, dapat melaksanakan kontrak dengan pihak ketiga yaitu perusahaan pengolah limbah B3.

Hingga 31 Maret 2020, rumah sakit rujukan Covid-19 sudah menghasilkan limbah sebanyak 2.495 kilogram. Dari jumlah itu, sebanyak 2.280 kilogram dilakukan pengolahan limbah secara mandiri dengan incinerator. Dan 213,5 kilogram doserahkan ke pihak ketiga.

Penangan Limbah Medis Covid-19 dari KLHK

MELIHAT adanya potensi bahaya dari limbah medis penanganan COVID-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan pedoman pengelolaan limbah tersebut. Pedoman itu termuat dalam Surat Edaran Mo. SE.2/MLHK/PSLB3/P.LB3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) tertanggal 24 Maret 2020.

Bagi rumah sakit atau instansi kesehatan lainnnya, sebelum dibuang limbah medis dari COVID-19 perlu penanganan melalui sejumlah langkah. Pertama, limbah medis infeksius yang dihasilkan harus disimpan dalam kemasan tertutup paling lama dua hari sejak dihasilkan. Limbah medis infeksius itu kemudian dimusnahkan.

Ada dua cara memusnahkan limbah medis yang dihasilkan, pertama menggunakan incinerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat celcius atau menggunakan autoclave yang dilengkapi dengan mesin pencacah atau shredder.

Residu hasil pembakaran atau pencacahan itu kemudian dikemas dan dilekati simbol “Beracun” dan label Limbah B3 yang selanjutnya disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 sebelum diserahkan kepada pengelola Limbah B3.

Tak hanya limbah medis yang berasal dari rumah sakit, limbah infeksius dari ODP yang berasal dari rumah tangga juga perlu penanganan khusus. Limbah APD berupa masker, sarung tangan, serta baju pelindung diri harus dikemas tersendiri menggunakan wadah tertutup dan diberi tulisan “Limbah Infeksius”.

Kemudian, petugas dari dinas yang bertanggung jawab di lingkungan hidup, kebersihan, dan kesehatan, melakukan pengambilan secara rutin dari setiap sumber untuk diangkut ke lokasi pengumpulan yang telah ditentukan sebelum diserahkan ke pengolah limbah B3.

Petugas kebersihan yang bertugas mengangkut sampah juga wajib dilengkapi dengan APD berupa masker, sarung tangan, dan safety shoes yang harus didisinfektasi setiap hari. Untuk menghindari timbunan sampah masker, masyarakat yang sehat diminta untuk menggunakan masker yang bisa dipakai ulang.

Jika terpaksa harus memakai masker sekali pakai, maka sebelum limbah masker dibuang, harus dirobek atau dipotong-potong lebih dulu dan dikemas rapi sebelum dibuang ke tempat sampah untuk menghindari penyalahgunaan. Di ruang publik, pemerintah daerah juga diharuskan menyediakan tempat sampah khusus untuk membuang masker bekas.


(am)

More Stories
Pemda Was-Was, Penumpang Diminta Datang Lebih Awal