BAGI sebagian besar orang, tanggal 1 Juni mungkin hanya dipandang sebagai tanggal merah di kalender. Momen santai untuk melepas penat dari rutinitas harian.
Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 58 Kalimantan Timur (Kaltim). Di sini, Hari Lahir Pancasila dirayakan bukan dengan rebahan, melainkan dengan cara yang hidup dan bermakna.
Pihak sekolah sengaja mengambil langkah nyata ini. Mereka ingin memastikan Sekolah Rakyat Kaltim menjadi tempat di mana generasi muda benar-benar merawat ingatan sejarah, bukan sekadar menghafal teks di buku pelajaran.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Kalimantan Timur, Rabiatul Adawiyah, gelisah melihat fenomena yang ada. Menurutnya, esensi 1 Juni perlahan mulai tergerus zaman dan kalah populer.
“Sering kali hari ini hanya dianggap libur biasa. Padahal momen ini sangat krusial,” ujar Rabiatul, Senin (1/6/2026).
Ia kemudian melontarkan sebuah analogi yang cukup menohok. Rabiatul mengingatkan masyarakat untuk tidak melupakan akar sejarah ideologi bangsa.
“Sebagaimana kita ketahui, sebuah bangsa tidak mungkin memiliki kesaktian jika belum lahir. Kita sering fokus pada Hari Kesaktian Pancasila, tapi melewatkan esensi hari lahirnya,” tambahnya.
Bergerak dari kegelisahan itu, sekolah ini merancang serangkaian kegiatan edukatif. Menariknya, metode yang digunakan disesuaikan dengan usia anak agar tidak membosankan.
Bagi siswa SMA yang akrab dengan teknologi, mereka ditantang adu kreativitas. Mereka diminta membuat poster digital bertema nasionalisme menggunakan aplikasi Canva.
Sementara untuk anak-anak SD, suasananya dibuat lebih ceria namun tetap berbobot. Siswa kelas rendah diajak mewarnai brosur, sedangkan siswa kelas tinggi mengikuti kuis interaktif seputar dasar negara.
Meski begitu, Rabiatul sadar betul bahwa nasionalisme tidak bisa tumbuh hanya dari perlombaan satu hari. Kuncinya ada pada konsistensi harian.
Sebab itu, Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Kaltim mencoba membumikan Pancasila lewat kebiasaan sehari-hari. Pondasi utama yang mereka sasar adalah sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pihak sekolah tidak tebang pilih. Setiap siswa dari latar belakang agama apa pun didorong untuk memperkuat keimanannya masing-masing.
“Dalam keseharian, kami selalu mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk rajin beribadah,” urai Rabiatul.
Siswa yang beragama Islam diwajibkan untuk disiplin menjalankan salat lima waktu. Begitu pula dengan siswa Nasrani, sekolah memastikan mereka rutin beribadah ke gereja.
Bagi Rabiatul, toleransi dan ketaatan beragama adalah wujud paling konkret dari pengamalan Pancasila yang sesungguhnya. Bukan sekadar hafalan lisan saat upacara bendera.
Melalui pendekatan humanis ini, ada harapan besar yang dititipkan pada pundak anak-anak Kaltim. Mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas di atas kertas.
Lebih dari itu, mereka adalah calon pemimpin masa depan yang memiliki nasionalisme kuat, berkarakter, dan tetap religius di tengah arus modernisasi. [TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami













