Pranala.co, SANGATTA — Isu super flu yang ramai dibicarakan di media sosial belum berdampak ke Kutai Timur (Kutim). Dinas Kesehatan (Diskes) Kutim memastikan hingga kini belum menerima laporan adanya kasus penyakit tersebut.
Kepala Diskes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan pemantauan terus dilakukan. Setiap perkembangan akan disampaikan kepada publik secara terbuka.
“Belum ada laporan kasus super flu di Kutim. Kalau nanti ada informasi atau laporan resmi, tentu akan kami sampaikan,” ujar Yuwana, Kamis (15/1).
Meski demikian, Dinkes tidak ingin lengah. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama mereka yang bepergian dari luar daerah maupun luar negeri. Mobilitas tinggi dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit saluran pernapasan.
Secara klinis, super flu memiliki gejala yang mirip dengan influenza pada umumnya. Namun keluhannya bisa terasa lebih berat. Demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius kerap disertai menggigil. Batuk kering dapat berlangsung cukup lama.
Keluhan lain juga bisa muncul. Mulai dari nyeri otot dan sendi, tubuh terasa sangat lemas, sakit tenggorokan, hingga sakit kepala. Pada kondisi tertentu, penderita dapat mengalami sesak napas atau nyeri dada.
“Gejalanya mirip flu yang dulu pernah ada, seperti flu Hong Kong sebelum masa Covid-19. Karena itu, langkah pencegahannya juga relatif sama,” jelas Yuwana.
Dinkes Kutim mengingatkan pentingnya disiplin menjaga kesehatan. Penggunaan masker masih relevan, terutama bagi warga yang datang dari wilayah dengan mobilitas tinggi.
“Masker efektif mencegah penularan, terutama bagi yang baru bepergian jauh atau dari luar negeri,” katanya.
Selain itu, masyarakat diminta memperkuat daya tahan tubuh. Pola hidup sehat menjadi kunci. Konsumsi makanan bergizi, perbanyak sayur dan buah, serta cukupi kebutuhan vitamin.
“Daya tahan tubuh harus dijaga dan diperbaiki,” tegas Yuwana.
Sebagai informasi, super flu menyebar melalui udara. Penularan terjadi lewat percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga Desember 2025 tercatat 62 kasus super flu di Indonesia. Kasus pertama terdeteksi pada Agustus 2025 dan telah menyebar di sejumlah wilayah.
Diskes Kutim memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Tujuannya agar menjaga masyarakat tetap aman dan sehat. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















