SAMARINDA, Pranala.co – Langit masa depan Indonesia bisa jadi cerah atau mendung—tergantung bagaimana kita menjaga anak-anak hari ini. Di Kaltim, lebih dari 109 ribu keluarga terdeteksi masuk kategori keluarga berisiko stunting (KRS). Angka ini bukan sekadar data, melainkan sinyal darurat tentang masa depan generasi 2045.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kaltim pun tak tinggal diam. Di bawah komando Kepala Perwakilan Nurizky Permanajati, gerakan masif pencegahan stunting digerakkan dengan mengusung konsep pentahelix — melibatkan lima unsur penting: pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.
“Semakin banyak pihak terlibat, target akan lebih mudah dicapai. Ini bukan kerja satu lembaga saja, tapi kerja bersama,” ujar Nurizky di Samarinda, Selasa (13/5/2025).
Perang di 1.000 Hari Pertama Kehidupan
BKKBN Kaltim menaruh fokus utama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) — sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Di masa inilah risiko stunting paling rentan terjadi, namun juga masih sangat mungkin dicegah.
“Media sangat penting di sini, untuk menyebarkan edukasi tentang makanan bergizi dan pentingnya sanitasi kepada para ibu hamil dan menyusui,” tegas Nurizky.
Data 2024 mencatat jumlah keluarga di Kalimantan Timur mencapai 875.586. Dari jumlah ini, sebanyak 109.342 keluarga teridentifikasi berisiko stunting. Masalahnya pun beragam: mulai dari ketiadaan jamban layak, hingga akses air bersih yang tidak memadai.
Yang paling rentan adalah keluarga prasejahtera, yang sehari-hari kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, apalagi makanan bergizi. Di sinilah negara harus hadir, dan di sinilah BKKBN mengambil peran.
Untuk memperkuat intervensi langsung, BKKBN Kaltim menggalakkan Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting). Tahun ini, 7.490 keluarga sasaran akan menerima bantuan berupa dukungan nutrisi dan non-nutrisi.
Melalui pendekatan ini, BKKBN berharap keluarga yang rentan bisa mendapat akses terhadap kebutuhan dasar anak, mulai dari gizi, edukasi pengasuhan, hingga sanitasi lingkungan.
Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong lintas sektor, Kalimantan Timur membuktikan bahwa perang melawan stunting adalah investasi jangka panjang — demi mencetak generasi cerdas, sehat, dan produktif di tahun 2045. [DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















