Pranala.co, BONTANG – Upaya perlindungan perempuan di Kota Bontang mulai menunjukkan hasil nyata. Dalam empat tahun terakhir, angka kekerasan terhadap perempuan cenderung menurun.
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mencatat 117 kasus pada 2022, turun menjadi 100 kasus pada 2023. Angka itu anjlok tajam menjadi 47 kasus pada 2024, lalu tercatat 88 kasus hingga November 2025.
Meski terjadi kenaikan kembali pada 2025, tren jangka panjang tetap menunjukkan perbaikan. Namun, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengingatkan agar masyarakat tidak terlena oleh penurunan angka tersebut.
“Tren ini menggembirakan, tetapi bukan berarti masalah selesai. Angka 88 itu tetap berarti ada 88 perempuan yang terluka, secara fisik maupun mental,” ujar Neni, Senin (9/12/2025).
Ia menjelaskan, sebagian besar kasus yang berlanjut hingga proses hukum di pengadilan agama merupakan gugatan dari pihak istri. Pemicu kekerasan pun beragam. Mulai dari kekerasan fisik, tekanan ekonomi, hingga masalah suami yang terjerat judi online.
“Praktik judi online semakin sering muncul sebagai pemicu pertengkaran rumah tangga. Ketergantungan finansial dan ketidakstabilan emosi memperburuk kondisi perempuan di rumah,” paparnya.
Di tengah penurunan kasus, satu isu penting terus digaungkan: keberanian untuk melapor. Banyak kasus justru terbongkar karena perhatian tetangga, keluarga, atau lingkungan sekitar, bukan semata keberanian korban.
Untuk memastikan korban tidak berjalan sendirian, pemerintah menyediakan rumah aman, layanan pendampingan hukum, hingga dukungan psikologis yang dapat diakses setiap waktu.
“Satu laporan bisa menyelamatkan satu nyawa. Kita harus saling menjaga,” tegas wali kota yang akrab disapa Bunda Neni itu.
Meski angka menunjukkan harapan, pekerjaan besar masih menanti. Edukasi tentang relasi sehat, penguatan ekonomi keluarga, hingga literasi digital terkait bahaya judi online terus didorong agar kekerasan dapat dicegah sejak dari akar permasalahan.
“Perlindungan terhadap perempuan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Lingkungan sosial yang peduli, keluarga yang peka, dan masyarakat yang berani bertindak menjadi kunci agar Bontang menjadi kota yang benar-benar aman dan ramah bagi perempuan,” kata Neni. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















