HERIYATIK menarik napas panjang saat menatap bangunan yang kini ia sebut rumah. Dindingnya memang sudah berdiri, namun ada yang kurang: pintu dan lantai yang layak. Baginya, bisa pindah ke bangunan baru ini saja sudah menjadi kemewahan, meski kondisinya jauh dari kata sempurna.
Ia adalah satu dari sekian banyak warga Kampung Timur RT 01, Kelurahan Kanaan, yang dipaksa keadaan untuk menjadi "tukang" bagi rumahnya sendiri. Bukan karena hobi, tapi karena ganti rugi yang dijanjikan pemilik galian C tak kunjung lunas dibayarkan.
"Alhamdulillah ini sudah bisa pindah ke bangunan baru, meski masih seadanya," tutur Heriyatik pelan.
Nasib Heriyatik memang pilu. Rumah lamanya rusak parah diterjang banjir lumpur akibat aktivitas tambang di sekitar pemukiman. Harusnya, ia menerima Rp35 juta sebagai kompensasi. Namun, kenyataannya uang itu baru cair sebagian. Sisanya? Masih menggantung di awan janji.
Demi punya tempat berteduh, ia terpaksa menguras sisa tabungan dan berharap pada uluran tangan kedua anaknya. Ia tak bisa lagi menunggu uang yang entah kapan datangnya.
"Sedikit-sedikit saya benahi sendiri. Kalau nunggu uangnya, enggak selesai-selesai," katanya ketir.
Kondisi serupa dialami Katinem. Ibu ini juga sedang menanti sisa komitmen sebesar Rp5 juta dari total kesepakatan Rp15 juta. Sebelum Lebaran lalu, ia memang menerima Rp10 juta, tapi sisa uang itu seolah lenyap ditelan waktu.
Katinem tak punya pilihan selain memperbaiki bagian rumah yang paling mendesak. Kini, pondasi rumahnya yang dulu tinggi pun terlihat rata dengan tanah akibat terjangan material longsor.
"Yang penting bisa ditempati dulu. Mau nunggu juga enggak tahu sampai kapan," keluhnya.
Persoalan di Kampung Timur bukan sekadar soal uang yang belum cair. Ada bom waktu yang masih tertanam di sana: masalah lingkungan. Hingga hari ini, rencana pembangunan drainase untuk mencegah banjir lumpur susulan hanya jadi obrolan tanpa realisasi.
Meski aktivitas tambang galian C dikabarkan sudah berhenti, warga merasa ditinggalkan begitu saja bersama tumpukan masalah yang mereka ciptakan. Tanpa drainase yang layak, warga selalu was-was setiap kali langit mulai mendung.
Bagi warga, kompensasi bukan sekadar nominal angka, melainkan tanggung jawab moral atas ruang hidup yang dirusak.
“Kalau janji ya harus ditepati. Ini kami yang kena dampaknya,” tegas Heriyatik menutup pembicaraan. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















