DALAM kurun waktu kurang dari lima bulan, dua nyawa melayang di area operasional PT Kaltim Prima Coal (KPC), Kutai Timur (Kutim). Rentetan tragedi ini memicu reaksi keras dari parlemen di Bukit Pelangi.
DPRD Kutim mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kerja di perusahaan tambang raksasa tersebut. Bagi wakil rakyat, hilangnya nyawa pekerja bukan sekadar angka statistik, melainkan duka mendalam yang tak ternilai harganya.
Insiden terbaru pecah 29 Mei 2026. Seorang operator alat berat tutup usia saat menjalankan tugasnya di area tambang. Belum kering luka lama, ingatan publik masih segar pada kejadian 10 Januari 2026 silam.
Kala itu, sebuah kendaraan pengangkut karyawan terperosok ke dalam kolam tambang di pekatnya malam. Satu nyawa juga hilang di sana. Dua kejadian fatal dalam waktu singkat ini menjadi sinyal merah bagi standar keamanan di lapangan.
"Ini menjadi catatan perhatian kita bersama. Kami sangat menyayangkan peristiwa ini kembali terjadi," ujar Anggota DPRD Kutim, Novel Tyty Paembonan, dengan nada getir, Selasa (2/6/2026).
Novel menekankan bahwa risiko tinggi di dunia tambang seharusnya diimbangi dengan kedisiplinan tanpa kompromi. Ia mengingatkan manajemen bahwa prosedur atau golden rule bukan sekadar pajangan di atas kertas.
"Kita bicara soal nyawa. Tidak ada yang bisa membeli nyawa. Semua orang pasti berduka, apalagi keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai hanya karena peristiwa seperti ini," ungkapnya penuh empati.
Politisi ini meminta investigasi dilakukan secara transparan. Jika ditemukan kelalaian manusia (human error) atau pelanggaran prosedur oleh manajemen, sanksi tegas wajib dijatuhkan. Novel tak ingin kasus ini menguap begitu saja menjadi laporan administratif di meja kementerian.
Menanggapi desakan tersebut, General Manager External Affairs dan Sustainable Development (ESD) PT KPC, Wawan Setiawan, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melaporkan insiden ini ke Kementerian ESDM.
Saat ini, tim Inspektur Tambang tengah turun ke lapangan untuk membedah penyebab pasti kecelakaan. Sebagai langkah darurat, operasional di lokasi kejadian dihentikan total untuk sementara waktu.
"KPC sendiri memang harus melakukan review secara masif agar ke depan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena di tambang, keselamatan adalah yang utama," kata Wawan. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















