Pranala.co, BONTANG — Pembangunan pabrik soda ash milik PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) diproyeksikan membuka peluang kerja besar bagi masyarakat lokal. Pada masa puncak konstruksi, proyek ini diperkirakan menyerap hingga 800 tenaga kerja, dengan 75 persen di antaranya diprioritaskan bagi tenaga kerja asal Bontang.
Ketua Tim Persiapan Proyek Soda Ash Pupuk Kaltim, Rifki Adi Nugroho, menjelaskan kebutuhan tenaga kerja akan meningkat secara bertahap seiring perkembangan proyek. Puncaknya terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
"Pada tahap konstruksi, kebutuhan tenaga kerja akan terus bertambah hingga mencapai sekitar 800 orang pada masa puncaknya," ujar Rifki, Sabtu (14/3/2026), dalam kegiatan buka puasa bersama wartawan Bontang.
Rifki menegaskan, Pupuk Kaltim bersama kontraktor berkomitmen mengikuti aturan Pemerintah Kota Bontang. Peraturan tersebut mewajibkan minimal 75 persen tenaga kerja berasal dari daerah setempat.
Selain membuka lapangan kerja langsung, proyek ini juga diperkirakan memberi dampak ekonomi lebih luas. Aktivitas pembangunan akan melibatkan berbagai sektor usaha lokal, mulai dari penyediaan konsumsi, jasa pendukung proyek, hingga kebutuhan logistik.
"Efeknya tidak hanya pada tenaga kerja langsung, tetapi juga pada usaha-usaha lokal yang ikut terlibat selama proses pembangunan," jelasnya.
Pabrik ini nantinya akan memproduksi soda ash, bahan baku penting yang banyak digunakan dalam industri kaca. Permintaan soda ash terus meningkat karena dibutuhkan untuk berbagai produk, seperti kaca otomotif, kaca bangunan, hingga panel solar cell untuk energi terbarukan.
"Selama ini, kebutuhan soda ash di Indonesia masih dipenuhi melalui impor karena belum ada pabrik yang memproduksinya di dalam negeri. Makanya melalui proyek ini, kami ingin menghadirkan pabrik soda ash pertama di Indonesia, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri," tutur Rifki.
Pabrik yang direncanakan memiliki kapasitas 300 ribu metrik ton per tahun ini tidak hanya menghasilkan soda ash. Proses produksinya juga menghasilkan amonium klorida, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk.
Menariknya, sebagian bahan baku utama sudah tersedia di Pupuk Kaltim, yakni amonia dan karbon dioksida (CO₂). Gas CO₂ yang biasanya menjadi emisi industri justru akan dimanfaatkan kembali dalam proses produksi.
"Dengan memanfaatkan gas CO₂, dapat membantu mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi proses industri," sebutnya.
[caption id="attachment_87920" align="aligncenter" width="700"]
Penampakan 3d model pabrik Soda Ash.[/caption]
Sementara itu, bahan baku tambahan berupa garam akan didatangkan dari luar daerah. Rifki menambahkan, pabrik ini akan menggunakan Hou Process, teknologi produksi soda ash yang dikembangkan ilmuwan Tiongkok, Hou Debang. Karena teknologi tersebut belum pernah diterapkan di Indonesia, proyek ini kemungkinan melibatkan tenaga kerja asing untuk proses transfer pengetahuan kepada tenaga kerja nasional.
"Ini akan menjadi pengalaman baru karena teknologi ini belum pernah digunakan di Indonesia," kata Rifki.
Proyek pembangunan pabrik soda ash ini telah dimulai sejak 19 Juni 2020 dan saat ini masih berada pada tahap desain serta persiapan lahan.
"Kegiatan konstruksi diperkirakan mulai meningkat pada pertengahan 2026 dan berlangsung hingga akhir 2027, sebelum memasuki tahap pengujian fasilitas," lanjutnya.
Pabrik yang dibangun di kawasan industri dengan kebutuhan lahan sekira 16 hektare ini ditargetkan mulai memasarkan produknya pada Maret 2028.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini tidak hanya menjadi tonggak baru bagi Pupuk Kaltim, tetapi juga menjadi langkah penting bagi Indonesia dalam mengembangkan industri bahan baku strategis di dalam negeri. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















