Pranala.co, BALIKPAPAN — Kondisi lembaga pemasyarakatan (lapas) di Kalimantan Timur (Kaltim) kian memprihatinkan. Daya tampung yang seharusnya hanya untuk 4.600 orang, kini dihuni 12.600 warga binaan.
Akibatnya, para penghuni harus tidur berdesakan karena ruang yang tersedia tak lagi memadai. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kaltim, Endang Lintang Hardiman, mengungkapkan lonjakan jumlah penghuni sudah sangat signifikan.
“Saat ini kapasitasnya sudah terlalu signifikan. Dari kapasitas kita 4.600, sekarang isinya 12.600,” ujar Lintang belum lama ini.
Menurutnya, kondisi lapas yang kian padat itu membuat warga binaan tidur dengan tidak nyaman. “Jadi bayangkan saja. Kalau lihat teman-teman di sana, tidurnya sudah numpuk-numpuk juga,” ungkapnya.
Tambahnya, dari total 12.600 warga binaan tersebut, mayoritas merupakan kasus narkoba. Lintang menyebut sekira 8.500 orang tersandung perkara narkotika.
“8.500 (warga binaan) itu narkoba dari 12.000 lebih itu, coba bayangkan saja,” katanya.
Di samping itu, saat ditanya apakah penghuni kasus narkoba didominasi pemakai atau pengedar, ia menjelaskan bahwa keduanya ada di dalam lapas.
“Ya, campur. Ada pemakai, ada pengedar narkoba,” jelasnya.
Lintang menyebut tingginya jumlah penghuni kasus narkoba tak lepas dari tingginya tingkat konsumsi. Terlebih, barang haram tersebut masuk dari lintas negara seperti Malaysia dan lainnya.
“Itu kan semuanya terpusat ke kita. Karena konsumen di kita ini sangat tinggi,” ungkapnya.
Lintang pun mengingatkan masyarakat untuk berhenti mengonsumsi barang haram tersebut, khususnya bagi mereka yang masih terjerat kecanduan narkoba. Ia menegaskan penyalahgunaan narkoba harus dihentikan demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa.
“Kalau kita sudah hobinya makan asap, dipakai-pakai asap, itu sudah setan lah itu,” tegasnya.
Lintang menambahkan, sejatinya manusia tidak mengonsumsi barang seperti itu. Dalam setiap kesempatan pembinaan, ia mengaku selalu mengingatkan warga binaan agar kembali menggunakan akal sehat dan memikirkan konsekuensi dari setiap tindakan.
“Supaya mereka berpikir ketika mereka tidur, benar nggak yang saya sampaikan itu. Kita ini manusia yang punya akal pikiran, gunakan akal pikiran itu ketika ingin melangkah,” ujarnya.
Menurut Lintang, kesadaran itulah yang penting agar masyarakat tidak terus terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Ia berharap generasi bangsa tidak hilang hanya karena terjerat kecanduan.
“Agar bangsa kita ini tidak hilang satu generasi karena semua menjadi pecandu narkoba. Itu yang tidak kita harapkan,” katanya.
Lintang melanjutkan, terkait kondisi overkapasitas, pihaknya telah mengusulkan solusi. Untuk Lapas Samarinda, misalnya, telah diminta relokasi ke kawasan Bayur. Lahan disebut sudah diberikan oleh Wali Kota Samarinda dan rencana pembangunan telah disampaikan kepada Menteri.
“Pak Menteri sudah setuju untuk membangunkan lapas yang berkapasitas 2.000 di samping lapas narkotika di Bayur,” jelas Lintang.
Lintang berharap pembangunan lapas baru tersebut dapat segera terealisasi agar warga binaan setidaknya bisa beristirahat dan beraktivitas dengan lebih layak.
“Mudah-mudahan mereka minimal bisa tidur nyaman ataupun duduk juga nyaman di dalam Lapas Samarinda,” pungkasnya. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















